Sunday, June 25, 2017

The Velveteen Rabbit

Pada suatu ketika ada seekor Kelinci Beludru yang menakjubkan. Ia gemuk dan empuk, sebagaimana seharusnya seekor kelinci; bulunya bebercak cokelat dan putih, kumis di moncongnya dari jalinan benang, dan telinganya berbahan satin merah muda. Pada Natal pagi, ketika ia diletakkan di bagian teratas kaus kaki si Anak Lelaki, dengan ranting holly di antara telapak depannya, ia tampak elok menawan.

Ada berbagai benda lain di dalam kaus kaki tersebut, kacang dan jeruk dan kereta mainan, dan cokelat almond dan tikus berkerekan, namun si Kelinci tampak paling menawan dari semuanya. Untuk setidaknya selama dua jam, si Anak Lelaki jatuh hati padanya, dan kemudian Paman dan Bibi datang untuk makan malam, membawa berbagai hadiah dalam bungkusan kertas yang segera dibuka, dan dalam kegembiraan akan mainan-mainan baru tersebut, si Kelinci terlupakan.


Untuk waktu yang lama ia tinggal di rak mainan atau di lantai kamar anak-anak, dan tidak banyak yang memperhatikannya. Si kelinci sendiri memang pemalu, dan karena ia hanya terbuat dari kain, mainan-mainan yang lebih mahal melecehkannya. Mainan yang mekanis sangat senang berkuasa, dan memandang rendah yang lainnya; mereka sangat modern, dan berpura-pura bahwa mereka sungguhan. Mainan kapal laut, yang sudah hidup selama dua musim dan kehilangan nyaris seluruh permukaan catnya, mengikuti cara mereka berpikir dan tidak pernah melewatkan kesempatan untuk membicarakan ilmu temali tambang kapal dalam bahasa yang sukar dimengerti. Si Kelinci tidak dapat bercerita tentang desainnya dirinya sendiri, sebab ia tidak tahu kelinci hidup memang ada; ia pikir kelinci lainnya juga berisi serbuk gergaji seperti dirinya, dan ia cukup mengerti bahwa isian serbuk gergaji sudah ketinggalan jaman dan tidak seharusnya dibicarakan di lingkungan yang lebih modern. Bahkan Timothy, si singa kayu, yang dibuat oleh prajurit perang yang cacat, dan seharusnya punya lebih banyak pandangan hidup, akhirnya ikut-ikutan dan berpura-pura ia punya koneksi dengan Pemerintah. Terjepit di antara mereka, si Kelinci kecil yang malang mulai merasa keberadaannya sangat tidak penting, dan hanya si Kuda Kulit yang menaruh perhatian padanya.



Kuda Kulit telah tinggal di kamar tersebut lebih lama daripada yang lainnya. Ia begitu tua hingga kulit cokelat tuanya sobek di beberapa tempat dan menunjukkan lapisan bulu kempa di bawahnya, dan sebagian besar rambut di ekornya sudah ditarik lepas untuk dijadikan kalung manik-manik. Ia bijak, karena ia sudah melihat banyak mainan mekanis yang datang dan memamerkan desainnya, dan pada akhirnya per mereka pun rusak dan mereka tidak lagi bergerak. Ia tahu mereka hanya mainan, dan tidak akan berubah menjadi apa pun. Karena sihir di kamar anak-anak tersebut tidak dapat diprediksi dan ajaib, dan hanya yang berpengalaman dan bijaksana seperti si Kuda Kulit yang mengerti tentang itu.



“Sungguhan itu apa?” tanya si Kelinci pada suatu hari, saat mereka ditaruh berdampingan sisi di balik pembatas kamar, sebelum Nana datang untuk merapikan kamar. “Apa maksudnya kita harus punya sesuatu yang berdengung di dalam dan punya tongkat yang mencuat keluar?”



“Sungguhan itu bukan bagaimana kamu dibuat,” kata si Kuda Kulit. “Itu adalah hal yang akhirnya terjadi padamu. Saat seorang anak menyayangimu untuk waktu yang sangat, sangat lama, dan tidak hanya bermain bersamamu, tapi benar-benar menyayangimu, maka kamu akan jadi Sungguhan.”



“Apa rasanya sakit?” tanya si Kelinci.



“Terkadang iya,” kata si Kuda Kulit, karena ia selalu berkata jujur. “Begitu kamu jadi Sungguhan kamu tidak akan keberatan merasa sakit.”



“Apakah terjadinya dalam sekejap, tiba-tiba selesai,” tanyanya, “atau sedikit demi sedikit?”



“Terjadinya tidak dalam sekejap,” kata si Kuda Kulit. “Kamu perlahan menjadi. Butuh waktu lama. Karena itulah ini jarang terjadi pada mereka yang mudah hancur, atau yang ujung-ujungnya runcing, atau yang harus dijaga baik-baik. Biasanya, saat kamu menjadi Sungguhan, sebagian besar rambutmu sudah rontok, matamu pudar, dan tungkai-tungkaimu melunak dan kamu jadi sangat lusuh. Tapi hal-hal itu tidak penting lagi, sebab begitu kamu jadi Sungguhan, kamu tidak lagi jelek, kecuali di mata mereka yang tidak mengerti.”



“Berarti kamu ini Sungguhan?” kata si Kelinci. Kemudian ia berharap tidak pernah mengucapkannya, karena ia pikir itu pertanyaan yang sensitif untuk si Kuda Kulit. Tetapi si Kuda Kulit hanya tersenyum.



“Paman si Anak Lelaki membuatku jadi Sungguhan,” katanya. “Itu terjadinya sudah lama sekali; namun begitu kamu jadi Sungguhan kamu tidak bisa kembali jadi tidak nyata. Terjadinya sekali untuk selamanya.”



Si Kelinci mendesah. Pikirnya, akan sangat lama sekali sebelum sihir bernama Sungguhan ini akhirnya terjadi padanya. Ia ingin menjadi Sungguhan, untuk tahu seperti apa rasanya; namun pemikiran bahwa ia akan jadi lusuh lalu kehilangan mata dan kumisnya agak menyedihkan. Ia berharap bisa langsung menjadi saja tanpa perlu kehilangan apa-apa.



Seseorang bernama Nana menguasai ruangan tersebut. Terkadang ia hirau saja pada mainan yang berserakan di sekelilingnya, lalu pada saat lain, tanpa alasan jelas, ia akan meraup mereka sekaligus dan menjejalkan mereka ke dalam lemari baju. Ia menyebut perlakuan itu sebagai “bersih-bersih,” dan semua mainan tidak menyukai hal tersebut, terutama yang terbuat dari logam. Si Kelinci tidak terlalu mempermasalahkannya, karena dilempar bagaimana pun juga ia akan jatuh dengan pelan.



Pada suatu malam, ketika si Anak Lelaki hendak tidur, ia tidak dapat menemukan anjing porselen yang biasa diajaknya tidur. Nana terburu-buru, dan karena terlalu repot untuk mencari anjing porselen di saat sebelum tidur malam, jadi ia memandang ke sekitarnya, dan begitu melihat mainan pertama yang tampak dari dalam lemari, ia meraihnya.



“Ini,” katanya, “Ambillah Kelinci lamamu! Dia akan menemanimu tidur!” Ia menyeret si Kelinci di salah satu telinganya, dan menaruhnya ke tangan si Anak Lelaki.



Malam itu, dan pada malam-malam berikutnya, Kelinci Beludru tidur di kasur si Anak Lelaki. Mulanya ia merasa agak kurang nyaman, karena si Anak Lelaki memeluknya demikian erat, dan terkadang ia menindihnya, dan terkadang ia mendorongnya terlalu dalam ke bawah bantal sehingga si Kelinci kesulitan bernafas. Dan ia juga rindu pada malam-malam panjang yang disinari bulan di kamar anak-anak, ketika tidak ada suara di seluruh rumah, dan pada obrolannya dengan si Kuda Kulit. Namun ia segera menyukainya, karena si Anak Lelaki seringkali mengajaknya bicara, membuatkan lorong di bawah seprai yang katanya tempat Kelinci sungguhan biasa tinggal. Lalu mereka akan saling berpetualang, saling berbisik, ketika Nana sudah pergi untuk makan malam dan meninggalkan perapian menyala. Ketika si Anak Lelaki tertidur, si Kelinci akan merapatkan dirinya ke bawah dagu si Anak Lelaki yang hangat dan bermimpi, dengan tangan si Anak Lelaki memeluknya sepanjang malam.



Dan seiring waktu berlalu, si Kelinci kecil menjadi sangat bahagia—begitu bahagianya sehingga ia tidak menyadari bulunya semakin lusuh, jahitan ekornya mulai lepas, dan warna merah muda di ujung hidungnya pun memudar dan lenyap, tempat di mana si Anak Lelaki mengecupnya terus menerus.



Musim semi tiba, dan mereka sering berlama-lama di pekarangan, karena tempat ke mana si Anak Lelaki pergi, Kelinci pun turut serta. Ia dinaikkan ke kereta sorong, makan kudapan di atas rumput, dan gubuk peri kecil dari ranting raspberry dibangun di tepi petak bunga untuknya. Suatu sekali, ketika si Anak Lelaki mendadak dipanggil untuk turut minum teh, Kelinci ditinggalkan di pekarangan hingga jauh selepas senja, dan Nana harus datang dan mencarinya sambil membawa lilin karena si Anak Lelaki tidak akan bisa tidur tanpa Kelinci di sampingnya. Ia basah oleh embun dan lumayan penuh tanah akibat sering dimasukkan ke dalam sarang kelinci yang dibuat si anak lelaki di petak bunga, dan Nana mengoceh sambil membersihkannya di celemeknya.



“Ini Kelinci-mu!” katanya. “Ribut-ribut hanya karena boneka kain!”



Si Anak Lelaki duduk di tempat tidurnya dan mencoba meraih si Kelinci.



“Kesinikan si Kelinci!” katanya. “Kamu tidak boleh bilang begitu. Dia ini bukan mainan, dia ini SUNGGUHAN!”



Ketika si Kelinci kecil mendengar ini, ia bahagia bukan main, karena ia tahu apa yang dikatakan si Kuda Kulit akhirnya terjadi. Sihir kamar anak-anak akhirnya terjadi padanya, dan ia sudah bukan lagi mainan. Ia kini Sungguhan. Anak Lelaki sendiri yang mengatakannya.



Malam itu ia terlalu bahagia untuk dapat tidur, merasakan begitu banyak cinta kasih memenuhi jantungnya yang dari serbuk gergaji. Pada matanya yang terbuat dari kayu bulat hitam, yang sudah lama tidak lagi berkilau, tumbuh kesan bijak dan menawan. Nana yang memungutnya di pagi berikutnya pun dapat melihatnya, dan berkata, “Wah, Kelinci ini mulai melihatku dengan cara yang berbeda rupanya!”




Saat itu musim panas yang luar biasa!



Dekat rumah tempat mereka tinggal, ada sebuah hutan kecil, dan di senja bulan Juni yang berkepanjangan, si Anak Lelaki kerap pergi ke sana untuk bermain selesai minum teh. Ia membawa si Kelinci Beludru bersamanya, dan sebelum ia menjelajah mencari bunga, atau bermain tentara-tentaraan di antara pepohonan, ia selalu membuatkan si Kelinci sarang kecil di sekitar dedaunan pakis, tempat si Kelinci bernaung, karena si Anak Lelaki berhati baik dan ia ingin si Kelinci merasa nyaman. Pada suatu sore, ketika si Kelinci duduk sendirian, memandangi semut-semut yang hilir-mudik di depan kaki kainnya di atas rumput, ia melihat dua makhluk aneh keluar dari pakis-pakis tinggi di dekatnya.



Mereka adalah kelinci seperti dirinya, namun lebih berbulu dan tampak baru. Pembuatnya pastilah amat ahli, sebab tidak tampak jahitan pada tubuh mereka, dan mereka dapat merubah bentuk saat bergerak-gerak; pada menit pertama mereka panjang dan kurus dan pada menit berikutnya mereka bulat dan gemuk, tidak selalu berbentuk sama seperti si Kelinci Beludru. Kaki mereka menapak lembut di atas rumput, dan mereka merayap mendekatinya, sambil mengendus-ngendus, tempat di mana si Kelinci mencari-cari celah untuk dapat melihat roda gerigi di baliknya, karena ia tahu mereka yang bisa melompat biasanya punya sesuatu yang harus diputar terlebih dahulu. Tapi ia tidak dapat menemukannya. Mereka pastilah Kelinci jenis terbaru.



Mereka menatapnya, dan si Kelinci menatap balik. Sepanjang waktu hidung mereka mendengus-dengus.



“Kenapa kamu tidak kemari dan main sama kami?” tanya satu dari mereka.



“Aku tidak ingin,” kata si Kelinci, karena ia tidak ingin mengatakan bahwa ia tidak memiliki gerigi untuk bergerak.



“Hah!” kata si kelinci penuh bulu. “Padahal ‘kan tinggal lompat saja ke sini,” dan ia melompat ke sampingnya dan berdiri di kaki belakangnya.



“Pasti kamu tidak bisa!” katanya.



“Bisa!” kata si Kelinci kecil. “Aku bisa melompat lebih tinggi dari apa pun!” Maksudnya ialah ketika si Anak Lelaki melemparnya, tapi tentu saja ia tidak mengatakannya.



“Kamu bisa melompat dengan kaki belakangmu?” tanya si kelinci yang berbulu.



Itu pertanyaan yang mengerikan, karena si Kelinci Beludru tidak punya kaki belakang sama sekali! Bagian bawahnya membulat datar, seperti bantalan jarum. Ia duduk diam di dalam pinus, dan berharap kelinci-kelinci itu tidak menyadarinya.



“Aku tidak mau!” katanya lagi.



Namun si kelinci liar punya mata yang tajam. Dan yang satu memanjangkan lehernya dan melihatnya.



“Dia tidak punya kaki belakang!” serunya. “Ada kelinci aneh yang tidak punya kaki belakang!” dan ia mulai tertawa.



“Punya!” jerit si Kelinci kecil. “Aku punya kaki belakang! Aku sedang mendudukinya!”



“Kalau begitu keluarkan dan tunjukkan, seperti ini!” kata si kelinci liar. Ia mulai berputar-putar dan menari, sampai si Kelinci kecil merasa pusing.



“Aku tidak suka menari,” katanya. “Aku lebih suka duduk diam!”



Tapi sebenarnya ia ingin menari, karena saat itu tumbuh perasaan asing yang menggelitiknya, dan ia merasa ingin mengorbankan apa pun di dunia agar bisa melompat seperti kelinci-kelinci itu.



Si kelinci asing berhenti menari, dan mendekatinya. Ia begitu dekat hingga kumisnya yang panjang menyentuh telinga si Kelinci Beludru, dan kemudian mendadak ia merengutkan hidungnya dan merundukkan telinganya dan melompat mundur.



“Baunya aneh!” serunya. “Dia bukan kelinci sungguhan! Dia ini palsu!”



“Aku SUNGGUHAN!” kata si Kelinci kecil. “Aku ini Sungguhan! Anak Lelaki sendiri yang bilang begitu!” Ia hampir menangis saat mengatakannya.



Namun terdengar suara langkah kaki, dan si Anak Lelaki berlari melewati mereka, dan dengan sekali pijakan dan kilasan ekor putih kedua kelinci putih itu pun menghilang.



“Ayo kembali dan main sama aku!” panggil si Kelinci kecil. “Oh, kembalilah! Aku ini benar-benar Sungguhan!”



Tapi tidak ada jawaban, hanya semut-semut kecil yang bekeliaran hilir mudik, dan pinus-pinus yang melambai di tempat kedua kelinci asing itu pergi. Si Kelinci Beludru tinggal sendirian.



“Aduh!” pikirnya. “Kenapa mereka lari? Kenapa mereka tidak datang dan mengajakku bicara lagi?”



Untuk waktu yang lama ia duduk diam, memperhatikan sesemakan pinus, dan berharap mereka kembali. Tapi mereka tidak pernah kembali, dan ketika matahari tenggelam lebih rendah dan ngengat-ngengat putih keluar, si Anak Lelaki datang dan membawanya pulang.




Minggu-minggu berlalu, dan si Kelinci kecil menjadi semakin tua dan lusuh, namun si Anak Lelaki tetap menyayanginya. Ia sangat menyayanginya hingga sampai kumisnya lepas semua, dan bagian merah muda di telinganya menjadi kelabu, dan bercak-bercak cokelatnya memudar. Ia bahkan mulai tidak lagi menyerupai seekor kelinci, namun si Anak Lelaki tetap mengenalinya. Bagi si Anak Lelaki ia tetap sama cantiknya, dan bagi Kelinci itu sudah cukup. Ia tidak peduli bagaimana penampilannya di mata yang lain, karena sihir kamar anak-anak telah menjadikannya Sungguhan, dan ketika kamu menjadi Sungguhan kelusuhan tidak lagi menjadi masalah.



Dan kemudian, suatu hari, si Anak Lelaki jatuh sakit.



Wajahnya merah padam, dan ia mengigau dalam tidurnya. Tubuhnya yang kecil menjadi amat panas sehingga si kelinci merasa pengap saat tidur berdampingan di sampingnya. Orang-orang asing datang dan masuk ke kamar, dan cahaya dinyalakan sepanjang malam dan selama itu si Kelinci Beludru berbaring diam, tersembunyi di balik seprai, dan ia tidak pernah bergerak, karena ia takut nanti seseorang akan menemukannya dan membawanya pergi, padahal si Anak Lelaki membutuhkannya.



Saat-saat itu lama dan menjemukan, karena si Anak Lelaki terlalu sakit untuk mengajaknya main, dan si Kelinci segera merasa bosan tanpa kegiatan sepanjang hari. Namun ia tetap bergelung diam, dan menantikan waktu di mana si Anak Lelaki kembali sehat, dan mereka akan kembali ke pekarangan di antara bunga-bunga dan kupu-kupu dan bermain permainan mengasyikkan di sesemakan raspberry sebagaimana dulu mereka bermain. Segala macam kegiatan yang menyenangkan ia rencanakan, dan ketika si Anak Lelaki tertidur ayam ia akan memanjat dekat ke bantal dan membisikkan rencana-rencananya padanya. Dan kemudian demamnya pun menurun, dan si anak lelaki mulai sehat kembali. Ia dapat duduk tegak di tempat tidur dan membaca buku cerita bergambar, sementara si Kelinci kecil bergelung dekat dengannya. Pada suatu hari, mereka membolehkannya turun dari tempat tidur dan berpakaian.



Pagi itu cerah, dan jendela terbuka lebar. Mereka membawa si anak lelaki ke balkon, terbungkus selendang, sementara si Kelinci kecil terbaring di bawah lipatan seprai, berpikir.



Si Anak Lelaki besok akan pergi ke pantai. Semuanya sudah direncanakan, dan sekarang tinggal melaksanakan perintah dokter. Mereka mengatakan segalanya, sementara si Kelinci kecil berbaring di bawah seprai, dengan sebagian kepala mengintip keluar, dan mendengarkan. Kamar itu harus didesinfeksi, dan semua buku dan mainan yang si Anak Lelaki bawa ke atas tempat tidur, harus dibakar.



“Hore!” pikir si Kelinci kecil. “Besok kita pergi ke pantai!” Si Anak Lelaki sering bercerita tentang pantai. Ia sangat ingin melihat ombak besar bergulung mendekat dan menjauh, dan kepiting-kepiting kecil, dan istana pasir.



Kemudian Nana melihatnya.



“Bagaimana dengan Kelinci tua ini?” tanyanya.



“Itu?” kata dokter. “Wah, itu sumber utamanya kuman demam berdarah—segera bakar! Apa? Tidak masuk akal! Belikan saja yang baru. Dia tidak boleh bermain dengan itu lagi!”



Dan kemudian si Kelinci kecil dimasukkan ke dalam karung penuh buku bergambar dan segala macam rongsokan, dan dibawa ke ujung pekarangan di belakang rumah burung. Tempat itu cocok untuk membuat api unggun, hanya saja si tukang kebun terlalu sibuk untuk langsung mengurusnya. Ia harus menggali kentang dan mengumpulkan kacang hijau, namun ia berjanji datang di pagi berikutnya untuk membakar tumpukan tersebut.



Malam itu si Anak Lelaki tidur di kamar lain, dan ia tidur bersama seekor kelinci baru. Kelinci baru itu luar biasa menakjubkan, putih bersih dengan mata dari kaca, namun si Anak Lelaki terlalu girang untuk peduli pada si kelinci baru. Besok ia akan pergi ke pantai, dan hal itu sangat menggembirakan sehingga ia tidak dapat memikirkan hal lainnya.



Selagi si Anak Lelaki tertidur, memimpikan tepi laut, Kelinci kecil berbaring di antara buku cerita bergambar di sudut pekarang di belakang rumah burung, dan merasa sangat kesepian. Karung itu tidak diikat, dan dengan menggeliat sedikit ia dapat menjulurkan kepalanya keluar dari karung. Ia menggigil kedinginan, karena ia sudah terbiasa tidur di kasur, dan saat itu kulitnya sudah demikian tipis dan usang sehingga tidak lagi mampu melindunginya dari dingin. Di dekatnya ia dapat melihat ranting-ranting raspberry, tumbuh tinggi dan rapat seperti hutan rimba, tempat di mana di bawah bayangannya ia biasa bermain dengan si Anak Lelaki. Ia teringat pada siang-siang panjang di pekarangan—betapa bahagianya mereka—dan rasa perih akibat sedih menusuknya. Ia seolah melihat kembali semuanya satu demi satu, setiap kali semakin indah daripada sebelumnya, rumah peri di petak bunga, senja sunyi dalam hutan di mana ia berbaring di bawah pakis-pakisan dan semut-semut kecil memanjati kakinya; hari yang menakjubkan di mana ia diberitahu bahwa ia Sungguhan. Ia teringat pada si Kuda Kulit, sangat bijak dan lembut, dan segala yang ia ceritakan padanya. Untuk apa dicintai dan tidak lagi cantik dan menjadi Sungguhan kalau berakhir seperti ini? Dan setitik air mata, air mata sungguhan, menuruni hidungnya dan jatuh ke atas tanah.



Kemudian terjadi hal aneh. Dari tempat air mata itu jatuh tumbuh setangkai bunga, bunga yang misterius, tidak mirip bunga manapun yang tumbuh di pekarangan tersebut. Daun-daunnya langsing dan berwarna secerah zamrud, dan di tengah daun terdapat selembar kelopak yang menyerupai cangkir emas. Bunga itu demikian cantik sampai si Kelinci lupa akan tangisannya, dan hanya berbaring memandanginya. Kemudian kelopak itu membuka, dan dari dalamnya melangkah keluar seorang peri.



“Kelinci kecil,” katanya, “Apa kamu mengenalku?”



Si Kelinci menatapnya, dan akhirnya ia merasa pernah melihat wajahnya, walau ia tidak ingat di mana.



“Aku adalah Peri kamar anak-anak,” katanya. “Aku pengurus semua mainan yang disayangi anak-anak. Begitu mereka sudah tua dan lusuh dan anak-anak tidak lagi memerlukan mereka, aku datang dan membawa mereka pergi dan menjadikan mereka Sungguhan.”



“Bukankah aku sudah jadi Sungguhan?” tanya si kelinci Kecil.



“Kamu Sungguhan bagi si Anak Lelaki,” kata si Peri, “Karena ia menyayangimu. Sekarang saatnya kamu menjadi Sungguhan untuk yang lainnya.”



Dan kemudian ia memegang si Kelinci kecil dan membawanya terbang ke dalam hutan.



Saat itu sudah terang, karena bulan sudah naik. Hutan itu tampak indah, dan ranting pakis-pakisan berkilau seperti perak berlapis embun beku. Di bagian hutan yang lebih legang tampak kelinci-kelinci liar menari bersama bayangan mereka di atas rumput merah, namun ketika mereka melihat sang Peri, mereka berhenti menari dan berdiri melingkar sambil memandanginya.



“Aku membawakan kalian teman main baru,” kata si Peri. “Kalian harus baik padanya dan ajarkan dia segala yang perlu ia ketahui di dunia kelinci, karena mulai saat ini ia akan tinggal bersama kalian selamanya!”



Kemudian ia mencium si Kelinci kecil lagi dan menaruhnya di atas rumput.



“Berlari dan bermainlah, Kelinci kecil!” katanya.



Namun si Kelinci kecil tetap duduk diam dan tidak bergerak. Karena ketika ia melihat kelinci-kelinci liar di sekelilingnya menari ia mendadak teringat ia tidak memiliki kaki belakang, dan ia tidak ingin mereka mengetahui itu. Dia tidak tahu ketika sang Peri mengecupnya, ia telah berubah. Dan mungkin ia akan diam seperti itu dalam waktu lama, terlalu malu untuk bergerak, kalau saja sesuatu tidak menggelitik hidungnya. Tanpa sadar, ia mengangkat kaki belakangnya untuk menggaruknya.



Kemudian ia sadar ia kini memiliki kaki belakang! Dan bukan lagi kain lusuh, kini tubuhnya penuh bulu cokelat, halus dan mengkilap, telinganya bergerak-gerak sendiri, dan kumisnya begitu panjang hingga menempel pada rerumputan. Ia melompat dan begitu gembiranya ia dapat menggunakan kaki belakangnya, ia melompat-lompat di atas lapisan rumput tebal, melompat ke samping dan melompat memutar seperti yang kelinci lain lakukan. Ia begitu girang sehingga ketika ia berhenti untuk mencari Sang Peri, Peri itu sudah tidak ada lagi.



Pada akhirnya, ia pun menjadi Kelinci Sungguhan, berada di rumah bersama-sama kelinci lainnya.



_________________________________



No comments:

Post a Comment