Waktu :
ST 5:43:21
Gejolak Surya : Tingkat 8
Koordinat :
02A7-7B77845
Pemindaian dimulai.../
Tinggi :
3567mm
Panjang :
2225mm
Lebar :
2225mm
Berat :
Tidak diketahui
Bahan :
Tidak diketahui
Objek :
Tidak diketahui
Mengulangi pemindaian...
Hasil :
Error/
Chapter 1
We are the children of chaos, and the
deep structure of change is decay. At root there is only corruption, and the unstemmable tide of chaos.
-P.W. Atkins
ॐ
Serph berhenti. Ada yang memperhatikannya. Dia dapat merasakannya.
Di sana. Ia menatap tajam menembus hujan pada sesosok makhluk kecil yang bertengger di tumpukan puing tak jauh dari sana. Makhluk itu balas menatap dengan mata yang berkilat.
Hujan membasahi mereka berdua—hujan perak. Genangan-genangan kecil meriak di kaki Serph, berkilat logam hingga tampak seperti perak cair. Di sekelilingnya tertanam berbagai rongsokan berkarat. Hujan membasahi medan perang itu. Tidak berasa dan tidak bertemperatur—hanya menggantung, mewarnai udara dengan warna perak.
Di kejauhan menjulang puncak menara dari Kuil. Saat ini ST-Shade Time-Waktu Temaram—dan warna langit didominasi abu-abu, dengan sesekali percikan cahaya hijau yang terlihat dari sudut mata. Pasukan Serph dan lawan mereka bersiap di balik perlindungan yang terbuat dari pecahan beton dan kendaraan yang terbalik, saling berhadapan di tanah tak bertuan yang telah hancur ini. Seragam tempur kesukuan yang mereka kenakan memiliki pengontrol suhu tubuh, tetapi tidak dibuat untuk pertempuran jangka lama. Serph tengah mengendurkan otot kakinya yang mulai kaku, namun terhenti saat merasa sesuatu tengah memperhatikannya.
Kucing.
Kata itu muncul di pikirannya, tapi ia tidak mengetahui artinya. Layar pemindainya mengeluarkan tulisan hijau “Kategori: Error/” berulang kali. Dia tidak yakin hasil itu berasal dari objek di seberang yang baru ia pindai, atau makhluk yang memperhatikannya dari puncak puing-puing. Mungkin bukan sesuatu yang perlu dikhawatirkan. Beberapa saat kemudian makhluk itu hilang, berikut pemikiran tentang makhluk itu.
Hujan mulai menderas.
“Pak,” si penembak jitu bersuara pelan. Serph mendekatinya. “Saya menemukan Harley Q.”
Serph mengangguk dan mengatur fokus alat pemindai di matanya, membesarkan imej pasukan lawan di lereng seberang mereka. Bayangan samar dari reruntuhan kota menjadi latar belakang yang muram. Musuh mereka berlindung di balik serakan reruntuhan bangunan yang membusuk, gundukan pecahan beton, dan kendaraan militer yang terguling. Hujan yang keperakan terus turun tanpa suara.
Bahkan dengan peningkatan sensitivitas pengindraan cahaya dalam kegelapan, ia kesulitan untuk mendeteksi pergerakan lawan dalam pertempuran di tempat terbuka seperti ini. Namun kondisi musuh mereka juga sama. Peningkatan refleks dan ketajaman indra juga mereka miliki, namun ketidakberaturan medan perang itu menyediakan kamuflase yang efektif. Ia mengganti pemindainya untuk mendeteksi panas tubuh, dan tampaklah warna merah dan orange di antara hamparan abu-abu.
Ketemu. Serph segera menganalisa pasukan yang dikerahkan oleh Vanguard.
Pemimpin mereka adalah Harley Q, profilnya ditempatkan pada sudut layar pindainya. Dia sendiri belum melihat Harley, tetapi bila si penembak jitu mengatakan dia ada, maka dia pasti ada. Si penembak jitu memiliki kemampuan tak tertandingi untuk menemukan sasaran—bahkan tanpa menggunakan alat pemindai.
Harley Q sangat berhati-hati dan cenderung menggunakan taktik gerilya; melihatnya melakukan konfrontasi langsung seperti ini agak tidak wajar. Fakta ini membuat Serph gelisah.
Kegelisahan.
Berarti sekedar potongan data yang tidak lengkap.
Medan tempur itu berbentuk cekungan dangkal. Lerengnya tidak rata oleh serakan pecahan beton dan gundukan lelehan mesin berbahan plastik yang menyeruak pada sudut-sudut janggal di seluruh medan. Tepat di tengah terdapat sisa runtuhan jalan layang yang terbelah dua. Siluet gelapnya membelah langit muram, sekaligus tanda perbatasan militer antara Svadhistana dan Muladhara. Dekat dengan pembatas itu adalah pasukan beranggotakan empat puluh, dan pada sisi satunya, enam puluh, kedua pasukan bersiap menunggu sinyal untuk memulai penyerbuan.
Pihak lawan telah maju dan menempati perisai alami dari truk kontainer, potongan bangunan yang telah terlupakan asal usulnya, dan reruntuhan lainnya. Pemindai panas kehilangan fungsinya; suara tidak lebih dari bisikan samar. Dari yang sempat Serph lihat, setiap ceruk yang mereka tempati berisi kelompok beranggotakan tiga hingga enam serdadu.
Ia mematikan pemindai panasnya dan melihat ke sekitar. Di balik garis wilayah musuh berkelebatan tanda kesukuan berwarna hijau terang. Seragam setiap suku memiliki tanda pembeda berupa warna. Vanguard ditandai hijau terang, dan lawan mereka—suku milik Serph, Embryon—ditandai orange terang. Kedua warna itu mencolok pemandangan yang dominan kelabu.
Vanguard mengontrol Svadhisthana, sementara Embryon menguasai Muladhara.
Secara keseluruhan, Junkyard terdiri atas tujuh wilayah. Pusatnya adalah Sahasrara, wilayah tak terjamah, tempat di mana markas pusat Gereja berada. Gerbang firdaus Nirvana akan terbuka bagi pihak manapun yang menguasai keenam wilayah. Begitulah kata Gereja, maka pastilah hal itu benar; Gereja Karma adalah pemilik otoritas tertinggi.
Muladhara, Svadhisthana, Manipura, Vishuddha, Anahata, Ajna, dan Sahasrara yang tak terjamah. Pada Sahasrara-lah berdiri menara tunggal yang ditempati prajurit-pendeta bertudung putih; pada puncaknya terdapat gerbang firdaus. Puncak menara itu menjulang tinggi dari tanah Junkyard, jauh di atas hujan dan kepulan debu. Dari sudut pandang Serph puncak itu tampak kabur dan buram, seolah tersapu oleh tinta encer.
Dari menara itu, menurut kisah-kisah, dapat terlihat ujung dunia. Dan saat ini, pada medan perang yang beralaskan reruntuhan, terdapat sesuatu yang belum pernah siapapun lihat sebelumnya.
Berat : Tidak diketahui
Bahan : Tidak diketahui
Objek : Tidak diketahui
Hasil : Error/
Berapa kalipun ia mengulangi pemindaian, hasilnya tidak berubah.
Tinggi benda asing itu tiga setengah meter dengan lebar dua meter. Bentuknya menyerupai bulatan yang mengulum, lancip pada puncak; permukaannya terbentuk dari lapisan logam bulat memanjang—juga berujung lancip—dan saling melapis seperti sisik. Pola-pola cahaya hijau terkadang menembus lempengan logam yang hitam kelam, membuat benda itu nampak seolah terselimuti jaring cahaya. Beberapa pipa tebal di tanah menempel pada benda itu, memberi kesan fungsi sebagai penyuplai energi.
Setiap kali cahaya mengalir melalui pipa, benda itu menggelenyar dalam hujan perak yang berkabut. Benda itu mirip kuncup, pikir Serph, sebelum kata asing itu terhapus dari benaknya.
Kucing. Kuncup.
Gejolak Surya hari ini benar-benar kuat.
“Peringatan untuk Embryon.” Suara kasar itu menggema dari megafon. “Singkirkan objek asing pada koordinat 02A7-7B77845 sesegera mungkin. Tindak pengabaian akan dianggap sebagai deklarasi perang, dan kami akan merespon dengan paksa.”
“Peringatan untuk Vanguard.” Suara yang menjawab berintonasi sama datarnya. “Singkirkan objek asing pada koordinat 02A7-7B77845 sesegera mungkin. Tindak pengabaian akan dianggap sebagai deklarasi perang, dan kami akan merespon dengan paksa.”
Sebuah panggilan masuk pada telinga Serph. Sang uskup, saat ini berada di barisan belakang, mengirimkan data hasil analisanya. Informasi memenuhi layar di depan mata Serph, namun kesimpulannya tetap sama. Bahkan sang uskup tak dapat memecahkan misteri objek asing tersebut.
Serph memberi jawaban singkat, lalu menutup panggilan. Dengan masih memperhatikan posisi lawan, ia memberi perintah pada pasukannya sendiri dengan sinyal tangan. Langkah-langkah kaki terdengar mengumpul di balik tiap perlindungan. Sang penembak jitu, dalam posisi siap tembak, memberinya lirikan singkat. Rambutnya yang merah muda sebahu tampak mencolok dalam pencahayaan kelabu.
“Selalu ada pengganti untuk prajurit, Pak, tetapi tidak sama halnya dengan pemimpin.”
Ia tidak menjawab. Pada titik ini, hal itu sudah jelas diketahui semua orang. Dalam konflik antar suku, bila salah satu pihak menghabisi pemimpin lawan, maka pertempuran tersebut berakhir. Bahkan bila pihak tersebut jelas-jelas menang telak, bila pemimpin mereka gugur dalam pertempuran, mereka akan disinyalir sebagai pihak yang kalah.
Untuk suku besar dengan pasukan memadai, seperti Benteng Anahata, wajar bila sang pemimpin sendiri tidak ikut bertempur secara langsung. Namun untuk suku yang relatif baru seperti Embryon, yang kalah jauh dari jumlah anggota, keberadaan sang pemimpin di medan perang adalah aspek yang sangat berharga.
Merupakan hal yang cukup luar biasa bagi suku baru seperti Embryon untuk dapat mengontrol seluruh Muladhara, pencapaian yang pastinya mustahil tanpa kecakapan hebat sang pemimpin, dan keahlian keempat anggota intinya.
Argilla, sang penembak jitu, adalah salah satunya. Ia sangat berbakat memastikan kehadiran musuh tanpa alat pemindai, lalu mencari celah dan menghabisi target dengan satu tembakan. Dua letnan Serph yang lain tengah memimpin pasukan mereka sendiri, tengah bersiap di kedua sisi formasi utama. Orang ke empat adalah sang uskup, yang akan mendukung dari baris belakang begitu selesai menganalisa data-data.
Fakta bahwa Embryon membutuhkan pemimpinnya dan keempat anggota intinya dalam pertempuran pribadi adalah sebuah kelemahan, tapi juga kekuatan. Suku ini hanya memiliki sekitar lima puluh anggota ketika mengontrol wilayah sekarang, dengan kelima anggota intinya selalu turun tangan di setiap pertempuran. Mungkin tidak banyak suku lain yang mengonsentrasikan potensi sebesar itu pada lima orang prajurit tempur.
Serph mengeluarkan pistolnya dari sarung dan menarik silinder untuk mengisi peluru pertama.
Rencananya adalah memfokuskan serangan pada pemimpin lawan begitu ia menampakkan diri. Dengan gerakan gesit tanpa celah, Serph akan memancing tembakan lawan pada dirinya sendiri, menunggu Harley Q menampakkan dirinya—dan pada saat itu akan diberondong mati oleh pasukannya. Bila mereka menghabisi Harley, pertempuran akan berakhir saat itu juga.
Dalam kasus normal, menghadapi kepungan dengan hanya bersenjatakan pistol adalah tindakan bunuh diri. Namun pada kasus ini, ia ingin menghindari senjata dengan bobot tidak perlu. Senjata yang lebih besar dan panjang seperti senapan laras panjang atau mitralyur akan terlalu merepotkan untuk dibawa, dan mengurangi kecepatannya untuk menghindari tembakan lawan.
Agar strategi ini berhasil, orang yang ditunjuk sebagai umpan harus mampu mengambil keputusan setepat dan secepat kilat, memiliki ketahanan fisik, dan keahlian bertahan di tengah medan perang dengan senjata sekecil mungkin. Satu-satunya orang yang memenuhi kriteria tersebut adalah sang pemimpin Embryon sendiri. Tentu saja, kematian sang pemimpin berarti akhir dari suku tersebut. Karena itulah Argilla memberinya peringatan.
Namun ada satu peraturan lagi yang harus dipertimbangkan.
Begitu pemimpin suatu suku gugur, anggota yang tersisa harus menyerah di tempat dan beralih pihak pada suku yang menang. Beginilah cara Embryon menambah jumlah pasukannya. Wanita yang sama yang memberinya peringatan beberapa saat lalu akan beralih pihak tanpa keraguan ke pemenang pertempuran.
Ia menaikkan tangan sebagai sinyal untuk memulai operasi.
Matanya berwarna perak, pikiran itu mendadak datang padanya.
Kucing itu. Tubuhnya hitam, ekornya panjang, telinganya segitiga, dan kumisnya setipis jarum.
Saat ini hal itu tidak penting.
Ia menurunkan tangan. Tembakan pertama membahana.
Dari balik dinding beton yang ia gunakan sebagai perisai, Serph melompat keluar dan berlari secepat kilat, menghindari serangan musuh dengan lincah sambil tetap berlari. Tembakan api menghujani tanah dekat kakinya. Wajahnya menembus bau dan asap panas ledakan mesiu. Karena ia harus memastikan agar dapat bergerak seluwes mungkin, Serph tidak memakai apapun untuk menutupi kepalanya. Ia melindungi mata dengan satu tangan dan menunduk untuk berguling ke depan.
Senjata pilihan Vanguard adalah busur silang otomatis. Anak panahnya sendiri tidak memiliki cukup daya untuk menembus gempuran lawan, tetapi hulu ledak pada ujungnya mampu menciptakan ledakan besar. Hantaman akibat ledakan itu mampu mengubah pasir dan kerikil menjadi proyektil pelumpuh atau pembunuh.
Gulingannya berakhir di balik sebuah perlindungan, namun serangan lanjutan mengikuti sebelum ia sempat menarik nafas. Anak-anak panah berhulu ledak menghujan dari atas. Walau tidak kena telak, ledakannya cukup untuk menghabisi targetnya. Secepat mungkin ia menembak jitu dengan pistolnya, meledakkan anak panah-anak panah tersebut pada jarak cukup jauh. Gelombang api menutupi pandangannya.
Ketika ia berguling kembali ke tempat persembunyiannya untuk menghindari ledakan, pecahan-pecahan besi hangus berjatuhan dari langit, dan hembusan angin bertemperatur luar biasa tinggi menyapu wajahnya, cukup panas hingga menimbulkan lepuh walau krim anti api telah dilapisi pada kulit yang tak terlindungi. Bila ia menerima ledakan itu secara langsung, saat ini ia sudah menjadi mayat gosong. Bau rambut terbakar tercium olehnya.
Ia kembali meledakkan selusin lebih anak panah yang ditujukan padanya, menggunakan peluru terakhirnya dengan saat bersamaan ia bersalto ke balik puing berukuran besar yang menjadi tujuan berikutnya. Sedetak jantung kemudian, gelombang api dari salah satu anak panah mengepul di atas kepalanya. Terdengar ledakan yang luar biasa besar, diikuti semburan angin berbau aspal gosong dan daging terbakar. Sejumlah orang mungkin ikut tewas.
Ia mengisi ulang amunisi ke dalam pistolnya dan memeriksa sekeliling, memilih tujuan berikutnya. Dari sisi matanya, ia melihat serombongan prajurit lawan keluar dari balik persembunyian mereka, berlari ke arahnya sambil memberondongkan senjata. Ia merespon secara naluriah—bukan pada musuh, namun pada anak panah yang melontar ke arahnya. Terkail dan memutar kehilangan momentum, proyektil itu beralih ke salah satu perlindungan milik lawan.
Hantaman telak.
Terdengar jeritan-jeritan. Beberapa tentara musuh terpincang keluar dari balik beton yang hancur, dengan tubuh yang berasap.
Namun sekejap kemudian, mereka terbanjiri letupan merah darah dan jatuh menelungkup ke tanah. Tembakan lain mengikuti. Argilla, masih tersembunyi di bilik tembaknya, mengganti amunisi dengan cekatan dan lanjut menembak tanpa jeda. Dalam satu tarikan nafas, seluruh rombongan tersebut terbaring mati di atas tanah.
Serentetan tembakan terdengar dari arah kanan Serph. Seorang Embryon berperawakan kecil dengan rambut biru terkepang anyam menyelusur turun dari ceruk di tepi medan tempur, menembakkan mitralyur ringan yang ia tahan sejajar dengan pinggang. Pasukan yang ia pimpin mengikuti dekat di belakangnya.
Pada saat yang sama, muncul tim lain dari sisi satunya. Pemimpin mereka adalah seorang prajurit penyerbu, lelaki besar dengan rambut merah terang yang mencolok kelusuhan pemandangan di sekitarnya. Di atas satu bahunya yang lebar bertengger sebuah pelontar granat. Ia menembakkannya sambil berlari, menghiraukan letupan api dari selongsongnya; ledakan yang mengikuti mengubah pihak lawan menjadi onggokan abu, lubang gelap berasap terbentuk pada permukaan tanah.
Di seluruh cekungan, para prajurit bertanda hijau dan orange terang bergumul secara langsung. Si lelaki berambut merah absen sedetik, sebelum menghalangi pergerakan lawan dengan lontaran granat lain, sambil didukung berondongan mitralyur ringan.
Serph menyalakan fungsi pelacak hasil pertempuran pada alat pemindainya. Pihak musuh tersisa tiga puluh dua tentara; pihaknya dua puluh dua. Pertempuran itu berlangsung lebih baik dari antisipasinya, tetapi perbedaan jumlah pasukan membuat waktu mereka menipis. Bahkan saat memindai, ia kehilangan satu prajuritnya lagi.
Dua puluh satu.
Namun masih tidak ada tanda-tanda dari Harley Q.
Ada jeda sesaat ketika ia mematikan fungsi pelacaknya. Saat itulah, ia melihat seorang prajurit musuh memanjat di reruntuhan tepat setengah meter di atasnya. Apakah tanda kesukuan tentara musuh ini disamarkan saat mendekatinya? Serph mengangkat pistolnya, walau tahu ia takkan sempat untuk menembakkannya. Ia menatap langsung pada sepasang mata yang membelalak lebar.
Serph melihat dirinya tercermin di mata itu, seorang lelaki muda berambut perak dengan mata yang terbuka sama lebarnya.
Sekejap kemudian, terdengar tembakan dari arah belakang, dan si penyusup lenyap dari pandangan, menyisakan muncratan darah dan serpihan organ kelabu. Serph mengencangkan pegangan pada senjatanya, menembak dua penyusup lain tepat di antara mata mereka, lalu bergerak ke titik intai berikutnya. Desis statis terdengar dari comm link dalam telinganya.
Di salah satu puncak reruntuhan wilayah Embryon, seorang lelaki menaikkan wajahnya dari lubang pengintai di senapan laras penjangnya. Matanya hijau-biru terang, warna yang sama dengan rambut di bawah tudungnya. Sang uskup.
“Saya dapat memastikan Harley Q berada di tempat. Berhati-hatilah, Pak.” Ia meneruskan transmisinya dengan beberapa set koordinat. Serph mengatur pemindainya, berganti pada mode pembesaran gambar untuk memindai pasukan lawan. Seorang lelaki dengan rambut kemerahan muncul sekilas, bergerak di balik salah satu kontainer. Alat pengintai itu menangkap sebuah gambar, memperbesar, lalu menajamkan kualitasnya. Garis-garis kabur selesai dirapikan, menunjukkan siluet seorang lelaki kurus berpenampilan cukup familiar. Ada guratan hijau pada bahu dan bawah matanya. Hal itu sudah cukup untuk mengonfirmasi kecocokannya dengan satu nama di daftar pasukan Vanguard. Harley Q sendiri.
Serph telah menemukan targetnya. Sekarang tinggal mencari cara tepat untuk memancingnya keluar. Ia menunggu jeda pada serangan musuh, mencoba menentukan rute terbaik yang akan diambilnya.
Lalu tiba-tiba seluruh medan pertempuran itu dipenuhi cahaya putih menyilaukan.
Mulanya, Serph mengira cahaya itu berasal dari sebuah ledakan, namun sesaat kemudian, muncul suara dengingan menyakitkan dari comm link-nya, diikuti keheningan total. Alat pemindainya sekali-kali menunjukkan gambar statis, aliran informasi terhenti seluruhnya.
Ia dapat melihat Harley. Tidak ada suara tembakan senjata api, selain desis statis. Harley terseok-seok dari balik perlindungan, lalu punggungnya melengkung dan tangannya terpentang. Desisan statis. Semakin banyak desisan statis.
Serph dapat mendengar jeritan tersiksa dari Harley. “Aku kenapa?”
Suara Harley juga terdengar seolah tercampur dengan desis statis; kata-katanya meluntur menjadi geraman terkulum. Lututnya menekuk dan ia jatuh ke tanah, membungkuk seolah hendak muntah. Muncul gerakan mendetak-detak dari tonjolan di punggungnya, seolah berisi sesuatu yang hidup. Suara basah dari daging yang sobek mengisi udara.
Dan selama itu terjadi, desis statis masih berlangsung.
Harley menjerit. Bagian belakang jaketnya tertarik ke atas, lalu sobek dari bagian dalam. Sesuatu yang hitam menyeruak keluar, terlalu cepat untuk dilihat mata; jeritan salah satu prajurit Vanguard berhenti mendadak saat bagian tubuhnya dari bahu ke atas lenyap tanpa jejak. Orang yang telah mati itu terjatuh pada punggung, dan tak lama kemudian darah mengucur dari mayatnya, membentuk genangan merah kental.
Serph memperhatikan, kehabisan kata-kata. Apakah pihak lawan tengah menjalankan strategi baru? Namun hal itu tidak menjelaskan kejanggalan pada tubuh Harley, dan alasan ia menyerang anggota pasukannya sendiri. Apakah musuh lain menyusup ke pertempuran mereka?
Serph memikirkan beberapa kemungkinan lain, tetapi mengenyahkannya. Sang pemimpin Embryon tetap tersembunyi sambil mempertimbangkan pilihannya. Ia mencoba menghubungi pasukan baris belakang lewat comm link, tetapi tidak ada jawaban. Rentetan tembakan api dimulai kembali, tetapi tidak seintensif sebelumnya. Dengan sangat berhati-hati, Serph mengintip keluar dari balik perlindungannya dan melihat keadaan sekitar.
“Kuncup” itu telah terbuka.
Objek asing itu terhiraukan sepanjang pertempuran, karena kedua sisi petempur tidak melihatnya sebagai ancaman taktis. Namun sekarang, benda itu tampak menyerupai senjata laser asing atau bom berdaya ledak tinggi, cahaya di dalamnya berdegup, meletup acak.
Sisik-sisik hitam sekarang nampak seperti kelopak, mengembang membentuk tampuk yang melingkar, di atasnya berpusaran garis-garis cahaya biru muda yang tak terhitung jumlahnya. Cahaya itu bergerak membentuk pusaran, meninggalkan jejak yang samar. Mustahil mengikuti jejak masing-masing cahaya. Hampir setiap saat, beberapa dari cahaya biru itu akan memisah, seolah tidak bisa tetap berada di pusaran itu, dan terbang tanpa arah—atau mengejar individu terdekat yang terlambat melarikan diri. Siapapun yang cukup sial dan tertikam salah satu cahaya tersebut akan jatuh tersungkur dan mengalami kejang-kejang hebat. Pipa-pipa tebal yang ada di tanah berdegup kencang, menguarkan cahaya kehijauan, seolah mewarnai medan perang itu dengan darah makhluk asing.
Pusaran cahaya-cahaya dan desis statis.
Serph mencoba memberi perintah pada pasukannya untuk mundur, tetapi comm link di telinganya hanya mengeluarkan derit melengking. Menyadari akan bahaya, para pasukan Embryon mulai bergerak mundur tanpa perintah, tetapi ini adalah situasi yang tak mungkin dihindari. Beberapa mengalami nasib serupa dengan korban pertama, kehilangan kepala atau tungkai secara mendadak, sementara yang lain, seperti Harley, tertusuk oleh cahaya kebiruan tersebut dan tersungkur ke atas tanah. Suara tembakan api berhenti, digantikan suara arus pusaran yang sangat samar ketika tempat itu dipenuhi cahaya dari objek asing tersebut. Serph merasakan sakit luar biasa, seolah ada sulur yang menyusup masuk ke dalam telinganya dan mencoba mencacah otaknya menggunakan pisau kecil. Pistol terjatuh dari tangannya.
Sesuatu—sejenis transformasi—tengah terjadi. Harley meraung. Sepasang tungkai tumpul tumbuh dari punggungnya, melambai-lambai liar seolah memiliki pikiran sendiri. Di seluruh medan pertempuran, tubuh-tubuh berkelejotan dan meringkuk sementara sayap-sayap mengembang, tanduk-tanduk menyeruak; cakar-cakar mengerikan memanjang, lapisan kulit digantikan sisik atau rambut tebal. Jalinan otot mengejang ketika para prajurit yang berjatuhan mulai berubah menjadi sesuatu yang bukan lagi manusia. Timbul kesan keindahan janggal pada makhluk-makhluk setengah jadi itu.
Mendadak, desisan statis pada comm link menghilang, dan seseorang berseru padanya.
“Pak, merunduklah!”
Pada saat itulah Serph menyadari ia sedang berdiri. Ia merasakan hantaman kencang di dadanya.
Dia tertembak. Dia dapat merasakannya, sesederhana-hananya. Tepat di jantung. Luka yang sudah pasti fatal. Ia tidak tahu pelakunya kawan atau lawan, tetapi sebuah peluru nyasar telah mengenai dadanya, menembus seragam tempurnya. Kakinya tak lagi dapat menampung beban tubuh, dan ia jatuh berlutut. Ia melihat ke bawah, menatap darah yang terpompa keluar dari tubuhnya dan mulai menggenang ke tanah.
Waktu yang sangat lama berlalu, atau itu dikarenakan persepsinya yang melambat. Tetapi menurut penunjuk waktu di alat pengintai yang hampir seluruhnya menunjukkan layar hitam, baru sedetik yang berlalu. Di detik selanjutnya, ia tahu, ia akan mati. Ia melihat angka-angka merah yang mengindikasikan sisa waktu hidupnya.
Desisan statis.
Bulatan cahaya putih mendatanginya. Dia harus menghindarinya, pikirnya, tetapi ia tidak sanggup melakukannya. Waktunya habis. Sesaat sebelum ia kehilangan kesadaran, cahaya putih itu menyelubungi tubuhnya.
Pusaran cahaya yang tersisa mengeluarkan suara bernada tinggi, lalu terbang memisah ke segala arah.
Sebuah penampakan berbayang melayang di depannya. Bentuknya mirip manusia; sensasi saat menatapnya mengingatkannya pada cermin, kecuali wajah yang balik memperhatikannya tidak tampak manusiawi. Bentuk itu nampak seperti sesuatu yang terbuat dari kristal, dengan jutaan faset berkilauan. Ujung rambutnya meruncing, separuh cair, mengombak maju mundur sambil meninggalkan lajur-lajur pelangi. Energi mengaliri makhluk itu dalam bentuk deburan ombak, berasal dari sikut dan tumit yang transparan, memecah pada tubuhnya yang keras dan tak berambut.
Alat pengintai Serph menunjukkan layar statis ketika mencoba untuk mengidentifikasi wujud misterius tersebut, lalu menampilkan sebuah teks.
Om Mani Padme Hum
Om, permata dalam teratai, hum.
Lalu teks itu meleleh dan meluntur, membentuk ulang satu kata.
Varuna
Dewa atas air dan langit.
Penampakan itu mendekat dan perlahan lenyap ke dalam tubuh Serph.
Ia dapat merasakannya mengalir dalam tubuhnya. Kekuatan yang luar biasa besar. Nafasnya tertarik paksa keluar dalam bentuk teriakan panjang. Ia merasa seolah satu demi satu selnya meledak, lalu sekejap membentuk ulang ketika tubuhnya mengubah menjadi sesuatu yang lain. Tepat di bawah kulitnya, kekuatan yang merasukinya bergelombang seperti perak cair.
Lalu sekarang, untuk kali pertamanya, ia tertawa. Tawa keras yang meraung-raung, bentuk sejati dari dasar lautan yang bergejolak dalam badai.
Terdengar raungan ketika sulur hitam kelam merambat dari arah belakang. Tepat sebelum mencekiknya, ia mencengkram dan menariknya. Lebih mudah daripada menahan pukulan anak kecil. Tulang dan otot hancur di kepalan tinjunya, seolah terbuat dari kertas. Ia merasakan hasrat akan kesakitan dan rasa lapar, juga ketakutan yang ia tanggap sebagai kegirangan tiada tara.
Musuhnya melihat balik padanya, matanya dipenuhi kengerian. Bagus. Sekarang lawannya tahu betapa tak imbangnya mereka berdua. Di tangannya masih tersisa daging dan tulang yang hancur. Ia meremas kuat tungkai korbannya yang memberontak dan menariknya paksa mendekatinya.
Kata mantra menggerakkan lidahnya. Kekuatannya mengkristal. Ia adalah penguasa atas air.
Serph meraih dengan satu tangan. Ia melihat perak ... lalu merah terang.
Hujan ... turun.
Hujan.
Hujan yang tak pernah berhenti. Hujan tanah Junkyard.
Tubuh orang-orang yang mati akan melebur dan dibawa ke langit, menjadi hujan yang kemudian jatuh kembali, lalu mengumpul di bawah Kuil. Di sana, sisa-sisa arwah dibersihkan atas karmanya—dosa-dosa yang diperbuat selama pertempuran—dan kemudian terlahir kembali ke dunia, untuk bertempur sekali lagi. Begitulah kata Gereja.
Ia melihat sebuah tangan perlahan menghalangi pandangannya. Di baliknya tampak langit yang selalu kelabu menjemukan.
Junkyard. Pertempuran. Hujan, cahaya. Tangan.
Tanganku.
Aku.
Namaku Serph.
Ia merasa seolah ada seseorang yang meremas jantungnya dengan tangan kosong.
Serph mengeluarkan suara geraman samar ketika ia kembali pada kesadarannya. Ketika ia melakukannya, pemandangan di sekitarnya nampak terlalu jelas hingga rasanya menakutkan.
Musuh mereka menghilang. Ia juga tidak melihat satupun anggota pasukannya. Tempat itu sunyi senyap. Comm link-nya jatuh ke atas tanah, mengeluarkan suara dengung. Sisa-sisa senapan yang hancur berada di kakinya.
Seseorang menaruh tangan di pinggangnya, membaliknya dan mencoba membopongnya berdiri.
“Heat,” gumam Serph, dengan kepala yang terasa ringan, mengenali si prajurit tempur bertubuh besar dari cengkramannya yang kuat. Ia mencoba berdiri. Ketika ia melakukannya, sesuatu yang hangat melesak keluar dari tenggorokannya, dan ia memuntahkannya. Cairan berwarna merah kecoklatan terpencar ke tanah, nampak seperti minyak bekas berumur lama. Heat tidak mengatakan apapun, tetap membopong Serph sementara sang pemimpin Embryon membungkuk dan mengosongkan isi perutnya.
Langit mulai menguarkan cahaya merah muda. Waktu semakin mendekati LT-Light Time. Berapa lama waktu yang sudah berlalu? Serph menatap ke sekitarnya. Objek misterius itu telah hilang tanpa jejak. Tidak ada tanda orang lain di antara tumpukan puing-puing. Seolah semua kejadian tadi hanya mimpi buruk.
Ia mengelap sisa muntahan di mulutnya. “Bagaimana yang lain?”
“Mereka baik-baik saja. Yah, antara kabur atau mati terbunuh. Bagaimanapun, aku tidak melihat orang lain di sini.” Heat berdiri dan melambaikan tangan pada cekungan yang muram, tempat mereka berada. “Tidak usah kuatir. Kondisi semua orang sama.”
“Maksudmu hal ini terjadi pada semua orang?”
Heat mengangguk, lalu mengernyit dan meludah ke tanah. Serph berhasil berdiri, lalu terbatuk dan limbung ketika ia melawan desakan muntah kembali. “Ke mana semuanya pergi? Apa mereka mundur?”
“Aku tidak tahu pasti.” Heat menggelengkan kepala dengan frustasi. “Ketika aku sadar, mereka sudah hilang. Semuanya. Hanya kita yang tersisa.”
Serph meraba dadanya, dan menemukan lubang hangus di seragamnya dari tembakan senjata api. Jadi ini bukan mimpi. Isi mulutnya seolah berlumur endapan minyak. Ada bau samar dari besi, dan rasa yang membuat lidahnya berkedut.
Ada yang tidak beres.
“Heat. Kamu ini Heat, kan?”
“Tentu saja aku ini aku.” Heat mengernyit. “Kamu sendiri yakin kamu ini kamu, Serph? Ayo, Argilla dan Gale ada di sana.”
Argilla. Gale.
Penglihatan Serph memburam sesaat, dan ia limbung.
“Argilla” adalah panggilan sang penembak jitu Embryon, seperti halnya “Gale” adalah nama sang uskup, ahli analisa yang merancang strategi perang mereka.
Dan Heat adalah adalah prajurit terbaik mreka, orang nomor dua di Embryon, setara dengan Serph sendiri. Ia sudah bertempur bersama Serph sejak awal mula, dan memiliki posisi penting di suku mereka.
“Serph?” Tampak keraguan pada mata Heat saat ia melihat pemimpinnya dari dekat. “Kamu nampak tidak sehat. Mungkin biar aku suruh yang lain ke sini saja.”
“Tidak usah. Aku baik-baik saja.” Serph menggelengkan kepala, memaksa rasa pusing aneh yang mencoba menyelubungi kepalanya. Itu perasaan yang aneh, seolah fungsi pembesar gambar pada alat pemindainya disetel terlalu tinggi, atau lebih tepatnya, fungsi penajam gambarnya dipasang pada tingkat maksimal. Seolah penglihatannya selama ini selalu terhalang lapisan tipis yang tak pernah ia sadari keberadaannya sebelum sesuatu merobeknya lepas.
Ia merasakan kehangatan dari jari Heat yang memegangi lengannya. Ia merasakan tetes-tetes hujan di badannya, dan dadanya tercekat saat ia teringat hujan tersebut berasal dari orang-orang yang gugur di atas medan perang.
Bau karat menusuk hidungnya.
“Di mana aku? Kenapa aku—wuah!” Suara bernada tinggi itu berasal dari dekat mereka.
“Siapa itu?” Tanya Serph.
“Itu Cielo,” kata Heat. “Entah dia sedang apa.”
Anggota inti yang termuda, Cielo—bukankah itu namanya? Seorang prajurit infanteri. Ya, itu benar. Serph sudah tahu itu. Tentu saja ia tahu. “Apa dia tidak apa-apa? Ayo kita melihatnya.”
“Pak, Anda baik-baik saja?” Argilla dan Gale muncul dari balik tumpukan puing, nampaknya juga telah mendengar suara Cielo. Gale tidak nampak jauh berbeda, tetap memakai tudungnya sementara ia memindai area sekeliling mereka dengan cermat, mata hijau-birunya waspada setiap saat. Argilla nampak terguncang, model ikatan pada rambutnya yang merah muda agak terlepas. Melihatnya tanpa senapan membuatnya tampak lebih tak berdaya daripada melihatnya tanpa busana.
“Pak, apa yang telah terjadi? Kemana Vanguard menghilang? Kemana semuanya pergi? Dan bagaimana dengan .. benda di medan tempur itu?”
“Saat ini saya tidak mendeteksi keberadaan yang menyerupai benda tersebut sejauh tiga kilometer dari posisi kita sekarang,” kata Gale, berbicara tanpa intonasi. “Tidak ada tanda kehidupan lain dalam jarak lima kilometer. Saya juga tidak mendeteksi keberadaan senjata pertahanan otomatis. Hanya kita yang berada di sini. Saya simpulkan kita tidak berada dalam ancaman serangan lanjutan.”
“Oh, diamlah,” sela Argilla. “Berapa kali aku harus beritahu kalau serangan lanjutan bukan masalahnya? Aku ingin tahu apa yang terjadi. Apa ada yang anda ingat, Pak?
“Tidak ada. Begitu pula Heat. Dan dari percakapan kalian, begitu pula kalian.”
Argilla menyerah, nampak sangat lelah. Serph menatap Gale kembali.
“Saya tidak dapat mengakses catatan Gereja,” respon Gale, seolah mengetahui apa yang ingin Serph tanyakan. “Gangguan statis saat ini terlalu kuat. Tampaknya mempengaruhi kinerja implan saya. Saya sarankan kita kembali ke markas untuk berembuk kembali. Semua orang telah kehabisan tenaga, dan kita membutuhkan lebih banyak informasi untuk menentukan langkah berikutnya.”
“Itu rencana yang bagus.” Serph melihat pada Argilla. Wajahnya pucat, dan satu tangannya menutupi mulut untuk menahan desakan muntah. Keadaan semua orang tidak baik, namun nampaknya Argilla mendapat efek terparah dari yang lainnya.
Yang lainnya.
“Aku hampir lupa,” kata Serph. “Mana Cielo?” Cielo adalah orang yang berada paling dekat objek ketika benda itu aktif.
Melihat ke sekitar, ia melihat siluet dari seorang anak muda berperawakan kecil berlatarkan langit merah muda, berlutut di bagian tanah yang menggunduk akibat ledakan. Cielo tengah menatapi sesuatu di depannya dengan ketertarikan penuh.
Serph dan yang lain berlari memanjati lereng kecil tersebut untuk bergabung dengannya. “Kenapa, Cielo? Ada apa di sini?”
“Oh, halo, Bos.” Cielo berbalik, rambut kepangnya yang berwarna biru melambai ketika ia menghadap Serph. Ia menunjuk pada titik yang tadi ia perhatikan dengan seksama. “Lihatlah.”
Tempat di mana objek aneh tersebut berada tadi kini menjadi kawah bundar, berdiameter hampir sepuluh meter dan cukup dalam untuk menutupi kepala seseorang yang berdiri di dalamnya. Batu dan tanah permukaannya menjadi kaca, seolah meleleh oleh hawa panas yang luar biasa; tumpukan tanah di pinggiran kawah menyatu membentuk bebatuan sejenis obsidian. Batu itu berkilauan dalam hujan.
Di dasar kawah yang menyerupai mangkuk kaca tersebut, terdapat seorang gadis yang tertidur meringkuk menyamping.
Ia nampak masih muda, tanpa sepotongpun pakaian di tubuhnya. Bagian dadanya yang menonjol terlihat di antara lengannya yang terlipat, kulitnya putih murni, seperti porselin berkualitas tinggi.
“Siapa ... siapa dia?” Tanya Argilla, suaranya bergetar.
Serph bertumpu pada satu lutut dan mengintip ke bawah dari pinggiran kawah. Nampaknya tidak ada jebakan. Ia mengaktifkan fungsi pembesaran dan pemindaian dari alat pengintainya dan mulai memeriksa dengan seksama. Sejauh yang ia tahu, gadis itu tidak bersenjata, maupun memiliki tungkai palsu yang dapat menyimpan senjata tersembunyi. Nampaknya tidak ada yang aneh dari gadis itu—selain fakta bahwa gadis itu berbaring tanpa busana di tengah medan perang. Yah, yang tadinya adalah medan perang.
Rambutnya hitam. Aneh, setelah Serph ingat kembali. Ia tidak pernah melihat orang berambut hitam di Junkyard. Orang-orang di Junkyard terlahir dengan kesinambungan warna antara rambut dan mata; Serph perak, Heat merah, Cielo biru, dan seterusnya. Warna mata dan rambut selalu sama. Namun sejauh yang Serph tahu, tidak pernah ada seorangpun menurut catatan Gereja yang terlahir dengan rambut hitam.
Tidak ada yang mengatakan apapun. Bahkan Gale tidak memiliki saran untuk tindakan selanjutnya. Namun, berdiri sambil terus mengawasi tidak akan menghasilkan apapun, maka Serph masuk ke dalam kawah tersebut.
Ia turun dengan berhati-hati hingga sampai ke dasar kawah, hanya melirik sekilas pada anggota kelompoknya ketika mereka memanggilnya karena terkejut. Permukaan yang mirip kaca tersebut retak dan remuk di bawah sepatu botnya. Apapun asal objek tersebut, benda itu telah meningkatkan temperatur di sekitarnya ke tingkat yang absurd. Uap panas mengambang dari hujan yang turun, menyelimutinya dengan kehangatan lembut. Permukaan kaca itu sendiri masih sangat panas hingga Serph dapat merasakannya dari balik alas sepatunya.
Tapi gadis itu sama sekali tidak terbakar...
Ia meraih gadis itu, terkejut ketika menyadari tubuhnya ringan. Dilihat dari dekat, gadis itu nampak lebih kurus dan lebih kecil, dan nyaris tanpa otot—bukan hal yang lumrah sebagai penduduk Junkyard. Orang-orang yang lahir ke dunia ini memiliki bangun tubuh seorang prajurit, bahkan seseorang semuda Cielo memiliki stamina dan kekuatan otot yang memadai.
Dan di luar fakta bahwa ia berbaring di tengah kawah bersuhu tinggi, kulit gadis itu terasa dingin, dan hanya sedikit lembab. Serph menyingkirkan rambutnya, memperlihatkan wajahnya yang kecil. Bulu matanya yang panjang berwarna sama dengan rambutnya, dan bibirnya yang merah nampak seperti hasil sapuan kuas. Bibir itu sedikit merengut karena rasa kurang nyaman. Hujan perak membuat rambutnya menempel basah ke wajahnya.
“Argilla, turunkan sesuatu untuk gadis ini pakai. Kita akan membawanya kembali ke markas.”
“Apa Anda yakin itu aman?” tanya Argilla. Serph melihat balik pada gadis di gendongannya.
Apa akan menjadi masalah jika ia membawanya pergi? Mungkin. Tetapi ada sesuatu dalam benaknya yang mendorong untuk tidak meninggalkan gadis ini di sini. Ia seperti ... mengenalnya.
Ia menggelengkan kepala untuk membuang pikiran itu. Itu tidak mungkin.
Untuk spekulasi logis, memang ada penghuni non prajurit di Junkyard. Kebanyakan dari mereka menangani gudang persediaan dan senjata dan mengabdi pada suku masing-masing sebagai prajurit cadangan. Para pendeta Gereja, sesuai peran mereka, menaati peraturan ketat untuk tidak terlibat dalam kekerasan, dan tidak pernah melibatkan diri ke tengah medan perang; dan sebagai sosok terdekat yang Junkyard miliki sebagai penguasa, para pendeta berperan sebagai hakim tertinggi seluruh suku, dan tidak melibatkan diri pada pertempuran dalam bentuk apapun. Namun Serph tidak pernah mendengar ada pendeta wanita di Gereja, sehingga ia ragu gadis itu adalah salah satunya.
Gadis itu tidak bergerak di gendongannya, masih bernafas pelan dan dalam, tertidur lelap.
“Berbahaya atau tidak, ia mungkin berhubungan dengan objek yang tadi berada di sini,” katanya. “Dan mungkin pada apa yang akan terjadi setelah ini. Begitu ia bangun, mungkin kita bisa memintanya memberitahukan sesuatu. Berikan jubahmu, Argilla. Dan turunkan sesuatu untuk panjatan, kurasa aku tidak bisa membawanya kembali seorang diri.”
______________________________________________
Sumber: "Quantum Devil Saga - Avatar Tuner", oleh Yu Godai.
No comments:
Post a Comment