Sehari lalu Gouto akan mengatakan bahwa ia merindukan bau
hujan: bau tanah basah dan asap dari api yang dinyalakan untuk mengusir hawa
dingin musim gugur; bau perkotaan yang kurang sedap tersiram habis oleh selubung
gerimis kecil.
Namun saat itu adalah hari lalu dan pada hari lalu tersebut ia
sedang berlari menyusuri stasiun kereta di bawah kaki si anak lelaki—yang oleh
keterburu-buruannya, agaknya lupa untuk lebih memperhatikan tumitnya. Kaki
Gouto sakit dan ekornya berkibas tidak senang, namun si anak lelaki—letih oleh pelatihannya—segera
terlelap di atas kasur gerbong tidur mereka, dan topi yang seharusnya menjadi kasur Gouto dibiarkan tergantung pada kursi. Ia
akhirnya menemukan ruang di antara kaki si anak lelaki, namun pemiliknya berguling
menindihnya di tengah malam dan jutaan permintaan maafnya yang terburu-buru
tidak dapat menyelamatkannya dari cakaran Gouto.
Kali ini tidak akan terulang lagi, kata si anak lelaki;
mereka tidak akan berkeliaran di tengah gelap yang menjelang senja, terlalu
keras kepala dan terlalu gugup untuk bertanya arah. Tidak, kali ini mereka akan
langsung mengikuti marka jalan yang benar, turun pada stasiun yang benar, dan
masuk ke dalam kantor dengan masih cukup banyak waktu tersisa (sebelum si
pemalas yang menyebut dirinya sebagai detektif terbangun) untuk tidur sebentar
di atas sofa.
Namun cukup beberapa putaran di bagian kota yang asing
sementara langit mengubah diri dari gelap, sehitam arang, dan kelabu abu untuk
membuktikan ia berbohong. Malu setengah mati, si anak lelaki mengangkat bahu:
"Pasti ada yang mengubah marka jalannya."
Saat itu ekor Gouto berkibas-kibas, beruntun menampari
pergelangan kaki si anak lelaki. Ia mengendus udara, mencium bau garam yang
membuatnya mengeong cemas. Tsukudo-cho tidak berada dekat dengan pesisir laut.
"Sebaiknya kita berjalan lagi." Dan kemudian ia cepat merunduk, karena
si anak lelaki melangkahi kepalanya.
Ia salah. Hujan hanya diperuntukkan bagi mereka yang tolol
dan yang bodoh dan bau hujan berarti ia tidak dapat mengandalkan penciumannya untuk
menemukan jalan ke rumah mereka. Tirai-tirai cahaya yang merembes dari sela-sela
awan tidak sedikitpun terasa hangat, dan segera, ia kuyub dari sekujur rambut hingga
kulit. Dan itu berarti kerikil basah akan menempel ke telapak kaki dan tidak
ada waktu untuk berhenti dan menggigitinya lepas—dan berarti tidak ada toko yang
buka lebih awal untuk melepas asap masakan mereka ke jalan raya.
Dan juga, hujan membungkam suara-suara kota yang masih
mengantuk, ragu untuk memijak lantai papan yang dingin. Satu-satunya yang dapat
si kucing dengar adalah langkah sepatu si anak lelaki yang menetak pada batu-batu
penanda setapak dan gerus kerikil yang terlepas, keletak-keteluk di atas tanah
yang mulai melumpur--
Jebruss dan ia
melangkah ke dalam genangan, menyiprati air kotor ke seluruh tubuh si kucing.
"Bagus sekali, nak." Gouto mendesis, mengibas telapaknya
yang basah, menggigil. Akan membutuhkan berjam-jam untuk menjilatinya sampai bersih,
dan angin seolah menyayatinya sampai ke tulang. Bocah sialan ini .... "Aku jadi penasaran apa kau—"
... Anak lelaki itu
menggendongnya dan menghandukinya dengan bagian dalam jubahnya, kemudian memeluk
dan merapatkannya pada kehangatan seragam sekolah di balik jubahnya.
Gouto menyondoli dada si anak lelaki dan ia balas mengecup
telinga Gouto. Bersama mereka melihat awan hujan yang tebal menggeser pergi
sementara matahari fajar menyinari Ibukota dengan kemilau perak yang baru.
_________________________