Bagian I
Mike Enslin masih berada dalam pintu putar ketika ia melihat Olin, manajer Hotel Dolphin, duduk di salah satu kursi lobi yang berdempetan. Semangat Michael mengendur. Mungkin seharusnya aku memang membawa pengacara itu lagi, pikirnya. Bagaimanapun, sudah telanjur. Dan bahkan bila Olin memilih untuk menambah satu atau dua hambatan lagi antara Mike dan kamar 1408, tidak masalah; akan ada kompensasinya.
Olin menyebrangi ruangan dengan satu tangan tembam terulur saat Mike keluar dari pintu putar. Hotel Dolphin terletak pada Sixty-First Street, tidak jauh dari Fifth Avenue. Gedung kecil yang tertata cerdas. Sepasang pria dan wanita berbusana malam melewati Mike saat ia meraih tangan Olin, setelah memindahkan tas inapnya ke tangan kiri. Wanita itu tentu saja berambut pirang dan bergaun malam; wangi bunga yang tercium lembut dari parfumnya seakan meringkaskan kota New York. Pada bar di panggung lobi, seseorang memainkan “Night and Day”, seolah untuk menggarisbawahi ringkasan tersebut.
“Pak Enslin. Selamat malam.”
“Pak Olin. Apa ada masalah?”
Olin meringis. Ia sekilas melirik sekeliling lobi yang kecil dan cerdas itu, seolah untuk mencari bantuan. Pada tempat penjaga pintu berada, seorang pria tengah mendiskusikan tiket teater bersama isterinya sementara si penjaga pintu sendiri menunggu dengan senyum yang kecil dan sabar. Pada meja resepsionis, seorang pria berpenampilan kusut, yang pasti adalah hasil dari jam panjang di Kelas Bisnis, tengah mendiskusikan reservasinya dengan seorang wanita berbusana jas hitam cerdas, yang dapat sekaligus menjadi busana malamnya. Pemandangan sehari-hari di Hotel Dolphin. Semua orang mendapat bantuannya kecuali Pak Olin yang malang, yang terjebak dalam genggaman tangan sang penulis.
“Pak Olin?” ulang Mike.
“Pak Enslin ... dapat saya berbicara dengan anda sebentar di kantor saya?”
Ya, dan kenapa tidak? Itu akan membantu mengisi satu bagian tentang kamar 1408, menambah kesan mencekam yang agaknya pembaca bukunya sukai, dan tidak hanya itu. Walau dengan semua petunjuk dan tanda-tanda, baru saat itu Mike Enslin benar-benar yakin: Olin memang takut pada kamar 1408, dan pada apa yang akan terjadi kepada Mike di kamar tersebut malam ini.
“Tentu saja, Pak Olin.”
Olin, sang tuan rumah yang baik, meraih tas Mike. “Izinkan saya.”
“Tidak perlu,” kata Mike. “Hanya beberapa baju ganti dan satu sikat gigi.”
“Anda yakin?”
“Ya,” kata Mike. “Saya sudah memakai baju Hawai keberuntungan saya.” Ia tersenyum. “Yang satu ini anti hantu.”
Olin tidak balas tersenyum. Ia malah menghela nafas, lelaki bulat kecil dalam jas cutaway gelap dengan dasi yang terpasang rapi. “Sangat baik, Pak Enslin. Ikuti saya.”
Di dalam lobi, sang manajer hotel tampak kebingungan, nyaris putus asa. Dalam kantornya yang berlapis ek, dengan foto-foto hotel terpajang di dinding (Hotel Dolphin buka pada 1910—Mike boleh saja menerbitkan buku tanpa ulasan di jurnal atau koran dengan nama besar, tetapi ia selalu meriset terlebih dulu), Olin agaknya mendapat kepercayaan dirinya kembali. Pada lantai tergelar karpet Persia. Dua lampu lantai memancarkan cahaya kuning lembut. Sebuah lampu meja hijau dengan tutup lampu berbentuk belah ketupat berdiri tegak di samping kotak cerutu. Dan di sebelah kotak tersebut adalah tiga buku terbaru karya Mike Enslin. Edisi sampul tipis, tentu saja, karena tidak pernah ada jilid tebalnya. Tuan rumahku yang baik sudah mengerjakan risetnya sendiri, pikir Mike.
Mike duduk di depan meja. Ia mengira Olin akan duduk di belakang meja, tetapi ia mengejutkannya. Olin mengambil kursi di sebelah Mike, menyilangkan kaki, lalu menyorong maju di atas perutnya yang ketat untuk mengambil kotak cerutu.
“Cerutu, Pak Enslin?”
“Tidak, terima kasih. Saya tidak merokok.”
Pandangan Olin berpindah pada rokok di balik telinga kanan Mike—bertengger ceria seperti reporter masa lampau yang pintar berkelakar menaruh rokok berikutnya tepat di bawah balutan kain bertuliskan pers, yang menempel di pinggiran fedoranya. Rokok itu telah sangat lama ia bawa-bawa sehingga untuk sesaat Mike benar-benar tidak tahu apa yang Olin lihat. Kemudian ia tertawa, mengambil rokok itu, menatapnya, lalu ganti menatap Olin.
“Belum sekalipun merokok selama sembilan tahun,” katanya. “Kakak laki-laki saya meninggal karena kanker paru-paru. Setelah ia meninggal, saya berhenti merokok. Rokok yang saya taruh ini ...” ia mengangkat bahu. “Separuh nostalgi, separuh prasangka, mungkin. Seperti kemeja Hawai ini. Atau rokok yang kadang-kadang anda lihat di meja atau dinding, tertempel dalam kotak kecil bertuliskan “pecahkan kaca dalam keadaan genting”. Apa dalam kamar 1408 diperbolehkan merokok, Pak Olin? Kalau-kalau tiba-tiba pecah perang nuklir?”
“Sebenarnya, memang iya.”
“Kalau begitu,” kata Mike dengan tulus. “Satu hal lagi yang tidak perlu saya khawatirkan malam ini.”
Pak Olin mendesah lagi, tapi desahan ini tidak memiliki rasa ketidaksenangan seperti yang ia desahkan dalam lobi. Ya, memang karena kantornya, batin Mike. Kantornya Olin, tempat spesialnya. Bahkan pada siang itu, saat Mike datang bersama Robertson si pengacara, kegelisahan Olin berkurang begitu mereka ada di sini. Dan kenapa tidak? Di mana lagi kamu dapat merasa tenang, kalau bukan di tempat spesialmu? Kantor Olin adalah sebuah ruangan dengan foto-foto bagus terpajang di dinding, karpet bagus tergelar di lantai, dan cerutu bagus dalam kotak cerutu. Tanpa diragukan lagi, sudah banyak manajer yang menangani berbagai macam urusan di tempat itu sejak tahun 1910; dalam caranya sendiri ruangan itu adalah New York dalam wujud si pirang bergaun hitam dengan bahu terekspos, serta wangi parfumnya, juga janji tersiratnya akan seks ala New York di jam-jam pendek di pagi hari.
“Anda masih berpikir saya tidak akan dapat mengubah pikiran anda, bukan?” tanya Olin.
“Saya tahu anda tidak akan bisa,” kata Mike, mengganti rokok yang ada di belakang telinganya. Ia tidak melicinkan rambutnya dengan Vitalis atau Krim Minyak Wildroot, seperti para penulis berfedora di masa lampau, tetapi ia tetap mengganti rokoknya setiap hari seperti ia mengganti celana dalamnya. Bagian belakang telingamu selalu berkeringat; bila ia memeriksa rokoknya pada akhir hari sebelum melempar sisa sulut mematikan itu ke dalam toilet, Mike dapat melihat noda kuning-jingga keringatnya di permukaan kertas putih yang tipis tersebut. Tetap, tidak menambah keinginan untuk menyulutnya. Tentang bagaimana ia dulu merokok selama hampir dua puluh tahun—tiga puluh puntung sehari, sudah tidak lagi ia pikirkan. Kenapa ia dulu melakukannya, adalah pertanyaan yang lebih bagus.
Olin mengambil tumpukan edisi sampul tipis tersebut dari permukaan papan pelapis mejanya. “Saya benar-benar berharap anda salah.”
Mike membuka retsleting yang ada di samping tas inapnya. Ia mengeluarkan sebuah minicorder Sony. “Boleh saya merekam percakapan kita, Pak Olin?”
Olin melambaikan tangan. Mike menekan record dan lampu merah kecil menyala. Roda perekam di dalamnya mulai berputar.
Sementara itu Olin memilah buku-buku di tangannya dengan perlahan, dan membaca judulnya. Seperti biasa, ketika ia melihat bukunya pada tangan orang lain, Mike merasakan emosi yang bercampur aduk: bangga, tidak nyaman, girang, menyangkal, dan malu. Ia sudah damai dengan rasa malu, sebab buku-buku tersebut menghidupinya selama lima tahun terakhir, dan ia tidak perlu membagi hasil penjualannya dengan agen promosi (“pelacurbuku” adalah sebutan agennya pada mereka, mungkin sebagian dengan rasa iri), karena ia sendiri yang memikirkan konsepnya. Walau buku pertamanya terjual laris, hanya orang tolol yang akan luput mengikuti jalan semestinya. Apa lagi setelah Frankenstein kalau bukan Bride of Frankenstein?
Tetap, ia pergi Ke Iowa. Ia belajar dari Jane Smiley. Ia berada dalam satu panel diskusi Stanley Elkin. Sekali, ia pernah begitu menginspirasi (tidak satupun di antara teman maupun kenalannya saat ini yang setidaknya menyangka ini) hingga karyanya diterbitkan sebagai Penyair Termuda Yale. Dan ketika sang manajer hotel mulai membaca judul bukunya keras-keras, Mike menemukan dirinya berharap ia tidak menantang Olin dengan perekam suara. Nantinya ia harus mendengarkan kembali nada suara Olin dan mencari-cari nada hinaan yang tersirat di dalamnya. Ia menyentuh rokok di balik telinganya tanpa sadar.
“Sepuluh Malam di Sepuluh Rumah Berhantu,” baca Olin. “Sepuluh Malam di Sepuluh Kuburan Berhantu. Sepuluh Malam di Sepuluh Kastil Berhantu.” Ia menatap Mike dengan senyum tipis di sudut mulutnya. “Pastinya yang satu ini ke Skotlandia. Dan belum lagi Hutan Vienna. Dan semuanya dapat dihitung untuk pengurangan beban pajak, benar? Lagipula, anda berurusan dengan yang bergentayangan.”
“Intinya?”
“Anda sensitif tentang ini, ya?” tanya Olin.
“Sensitif, ya. Lemah, tidak. Apabila anda berharap untuk membujuk saya keluar dari hotel anda dengan mengkritik buku saya—“
“Tidak, sama sekali tidak. Saya hanya penasaran. Saya meminta Marcel—penjaga pintu hari itu—untuk membeli semua ini dua hari lalu, ketika anda pertama datang ... dengan permintaan anda.”
“Itu memang pemintaan, bukan permohonan. Dan akan tetap begitu. Anda sudah mendengar Pak Robertson; Hukum Kota New York—belum lagi dua hukum perdata akan hak sipil—melarang anda untuk tidak memberi kamar yang saya inginkan. Dan kamar 1408 tidak dihuni. Kamar 1408 sudah lama tidak pernah dihuni.”
Namun Pak Olin belum ingin teralihkan dari subjek tiga buku terbaru Mike—semuanya buku terlaris New York Times. Ia memilah-milah kembali untuk ketiga kalinya. Cahaya lampu yang lembut memantul di sampul yang mengkilap. Banyak warna ungu pada sampul tersebut. Mike ingat pernah diberitahu, warna ungu membantu mendongkrak penjualan buku-buku seram.
“Saya belum sempat membacanya sampai sore ini,” kata Olin. “Saya cukup sibuk. Dan memang biasanya begitu. Hotel ini termasuk kecil untuk standar New York, namun kami memiliki persentase inap sembilan puluh persen dan biasanya selalu ada masalah yang datang bersama tamu yang masuk dari pintu depan.”
“Seperti saya.”
Olin tersenyum sedikit. “Anda masalah yang agak spesial, Pak Enslin. Anda dan Pak Robertson anda dan ancaman-ancaman anda.”
Mike kembali merasa jengkel. Ia tidak mengancam, kecuali Robertson sendiri yang dapat dikategorikan sebagai ancaman. Dan ia sendiri yang dipaksa memakai pengacara, seperti seseorang terpaksa menggunakan linggis pada gembok karatan yang sudah tidak lagi menerima kunci.
Gembok ini bukan milikmu, kata suara dari dalam dirinya, namun hukum kota dan negara tersebut mengatakan hal yang berbeda. Hukum mengatakan bahwa kamar 1408 di Hotel Dolphin dapat ia tinggali bila ia menginginkannya, selama tidak ada seorangpun yang lebih dulu meninggalinya.
Ia mulai sadar bahwa Olin tengah memperhatikannya dengan senyum tipis. Seolah ia mengikuti dialog hati Mike, kata per kata. Hal itu memberinya perasaan tidak nyaman, dan Mike tidak menduga hal tersebut. Seolah ia ditaruh dalam posisi membela diri sejak ia mengeluarkan minicordernya (yang biasanya mengintimidasi) dan menyalakannya.
“Kalau ini semua ada maksudnya, Pak Olin, saya takut saya sudah tidak lagi menangkapnya sejak lama. Dan saya sudah lelah. Bila cekcok kita tentang kamar 1408 sudah selesai, saya ingin segera naik ke atas dan—“
“Saya membaca satu dari ... ah, apa sebutannya? Esai? Kisah?”
Pelunas-tagihan adalah bagaimana Mike menyebutnya, tapi ia tidak berniat mengatakannya dengan perekam yang masih menyala. Bahkan kalau itu perekam miliknya sendiri.
“Cerita,” pilih Olin. “Saya membaca satu cerita dari tiap buku. Yang tentang rumah Rilsby di Kansas dari seri Rumah Berhantu anda—“
“Ah, ya. Pembunuhan berkapak.” Pelaku yang memutilasi keenam anggota keluarga Eugene Rilsby tidak pernah tertangkap.
“Tepat. Dan tentang di mana anda berkemping di makam sepasang kekasih di Alaska yang bunuh diri—yang orang-orang terus mengatakan penampakannya ada di sekitar Sitka—dan catatan malam anda di Kastil Gartsby. Yang itu ternyata lumayan mengasyikkan. Saya terkejut.”
Telinga Mike sudah terasah untuk menangkap nada menghina bahkan pada komentar paling membosankan sekalipun tentang seri Sepuluh Malam-nya, dan terkadang ia yakin ia mendengar penghinaan yang sebenarnya tidak ada—hanya ada beberapa makhluk hidup di bumi ini yang sama paranoidnya dengan seorang penulis yang percaya, bahwa jauh di dalam hatinya, ia sebenarnya hanya tukang bual. Mike memang mendengarnya—tetapi ia tidak percaya ada penghinaan dalam kata-kata tersebut.
“Terima kasih,” katanya. “Mungkin.” Ia melirik minicordernya. Biasanya mata merah kecil itu akan tampak seperti menatap lawan bicaranya, menantangnya untuk mengatakan hal yang salah. Malam itu mata tersebut tampak seolah tengah menatap Mike.
“Ya, saya memang memaksudkannya sebagai pujian.” Olin menepuk buku-buku tersebut. “Saya bermaksud untuk menyelesaikan membacanya ... namun untuk penceritaannya. Saya menyukai gaya anda. Saya terkejut mendapati diri saya tertawa pada petualangan anda yang agaknya tidak terlalu supernatural di Kastil Gartsby, dan saya terkejut akan teknik anda. Kesubstilan anda. Saya menduga gaya anda lebih frontal, lebih banyak darah dan pembantaian.”
Mike menyiapkan diri untuk yang pasti akan datang berikutnya, variasi Olin dari sedang apa perempuan baik-baik sepertimu di tempat semacam ini. Olin, pengurus hotel yang membumi, penerima tamu wanita berambut pirang yang mengenakan gaun malam saat keluar di malam hari, yang mempekerjakan pensiunan karatan bertuksedo yang mendentingkan standar lama seperti “Night and Day” di bar hotel. Olin yang mungkin membaca Proust pada malam-malam hari liburnya.
“Tetapi buku-buku ini juga mencemaskan. Apabila saya belum membacanya, saya rasa saya bahkan tidak akan repot menunggu anda malam ini. Begitu saya melihat pengacara itu dengan kopernya, saya tahu anda memang bermaksud untuk tinggal di kamar terkutuk itu, dan tidak ada yang dapat saya katakan untuk membuat anda mundur. Namun buku-buku ini...”
Mike meraih dan mematikan minicorder-nya—mata merah kecil yang memelototinya mulai membuatnya merasa tercekam. “Anda ingin tahu kenapa saya mengais sampah semacam ini? Benar?"
“Saya asumsikan anda melakukannya demi uang,” kata Olin tenang. “Anda sudah lama sekali melakukan ini. Setidaknya, itu estimasi saya ... walau menarik melihat anda langsung melompat pada kesimpulan itu.”
Mike merasa wajahnya menghangat. Tidak, ini tidak akan berjalan sesuai dugaannya; dia belum pernah mematikan perekam suaranya di tengah percakapan. Namun Olin tidak tampak sesuai penampilannya. Aku disesatkan olehnya, pikir Mike. Disesatkan tangan tembam sialan hotel manajer ini, dengan barisan kukunya yang putih, terpotong dan termanikur rapi.
“Yang mengkhawatirkan saya—yang membuat saya ngeri—adalah saya menemukan diri saya membaca hasil karya seorang lelaki yang cerdas dan berbakat, yang tidak mempercayai sepatah katapun tulisan dalam karyanya.”
Itu tidak sepenuhnya benar, pikir Mike. Ia sudah menulis setidaknya dua lusin cerita yang sepenuhnya ia percayai, dan benar-benar menerbitkan beberapa di antaranya. Ia sudah menulis berim-rim puisi yang ia percayai selama delapan belas bulan pertamanya di New York, sementara ia menunggu bayaran The Village Voice dengan perut kosong. Namun apa ia percaya pada hantu tak berkepala dari Eugene Rilsby berjalan-jalan di rumah pertanian Kansas yang terbengkalai pada terang bulan? Tidak. Ia telah menghabiskan malam di rumah pertanian tersebut, berkemping di atas gundukan lantai linolium dapur yang kotor, dan tidak melihat sesuatu yang lebih mengerikan daripada dua ekor tikus yang terpeleset di lapisan papan alas tiang. Ia sudah menghabiskan malam musim panas di reruntuhan kastil Transylvania di mana Vlad Tepes dikatakan masih bergentayangan; satu-satunya vampir yang benar-benar muncul adalah serubungan nyamuk Eropa. Pada malam di kuburan pembunuh berantai Jeffrey Dahmer, muncul wujud putih berlumuran darah yang mengibas-ngibaskan pisau ke arahnya tepat jam dua malam, namun suara kikikan dari teman-teman si penampakan membongkar identitasnya, dan hal itupun tidak membuat Mike Enslin terhibur; ia dapat langsung mengenali sosok remaja hantu yang mengayun-ayunkan pisau karet. Namun ia tidak berniat memberitahu satupun dari ini pada Olin. Ia tidak boleh—
Tetapi, ia dapat melakukannya. Minicorder itu (yang akhirnya ia pahami adalah kesalahan dari awal) sudah tersimpan kembali, dan pertemuan ini hampir setidak-resmi yang bisa ia dapatkan. Juga, ia mulai menghargai Olin dengan cara yang janggal. Dan ketika kamu mulai menghargai seseorang, kamu ingin memberitahukannya hal yang sebenarnya.
“Tidak,” katanya, “Saya tidak percaya pada setan atau hantu atau monster berkaki panjang. Menurut saya bagus makhluk-makhluk semacam itu tidak ada, sebab saya tidak percaya ada satupun Tuhan yang mampu melindungi kita dari mereka. Itulah yang saya percayai, namun saya tetap berpikiran terbuka sejak awal. Saya mungkin tidak akan pernah memenangkan Penghargaan Pulitzer untuk menginvestigasi Hantu Bergonggong di Pemakaman Mount Hipe, tapi saya pasti akan menulis tentangnya seandainya ia benar-benar muncul.”
Oling mengatakan sesuatu, hanya sepatah kata, tetapi terlalu pelan untuk dapat Mike dengar.
“Maaf?”
“Saya bilang tidak.” Olin menatapnya nyaris seolah meminta maaf.
Mike mendesah. Olin pikir ia pembohong. Ketika sudah sampai pada titik ini, pilihan yang ada tinggal maju pantang mundur atau sepenuhnya menutup pembicaraan tersebut. “Kenapa kita tidak mengurus masalah ini di lain hari, Pak Olin? Saya tinggal pergi ke atas dan menggosok gigi. Mungkin saya akan melihat penampakan Kevin O’Malley di belakang saya pada cermin kamar mandi.”
Mike mulai berdiri dari kursinya, dan Olin mengulurkan tangannya yang gemuk dan termanikur rapi untuk menghentikannya. “Saya tidak mengatakan anda pembohong,” katanya, “tapi, Pak Enslin, anda tidak percaya. Hantu jarang muncul pada mereka yang tidak percaya, dan ketika mereka muncul, mereka jarang terlihat. Eugene Rilsby bisa saja menggulingkan kepalanya yang terpotong sepanjang lorong depan rumahnya, dan anda tidak akan mendengar apapun!”
Mike berdiri, lalu membungkuk untuk meraih koper inapnya. “Kalau begitu, maka saya tidak perlu mengkhawatirkan apapun tentang kamar 1408, bukan?”
“Ada,” kata Olin. “Ada yang harus anda khawatirkan di sana. Di dalam kamar 1408 tidak ada dan tidak pernah ada hantu. Memang ada sesuatu di dalam sana—yang saya sendiri rasakan—namun bukan dari arwah penasaran. Pada rumah terlantar atau kastil tua, ketidakpercayaan dapat melindungi anda. Pada kamar 1408, ketidakpercayaan hanya akan mencelakakan anda. Jangan lakukan ini, Pak Enslin. Karena itulah saya menunggu anda malam ini, untuk meminta, memohon pada anda, untuk tidak melakukannya. Dari daftar seluruh penduduk bumi yang tidak boleh ada di dalam kamar tersebut, lelaki yang menulis cerita hantu bernada ringan ada pada deretan teratas.”
Mike mendengar dan sekaligus tidak mendengarnya. Dan kau malah mematikan perekam suaramu! Jeritnya dalam hati. Dia mempermalukanku sampai aku mematikan perekam suaraku dan kemudian dia menjadi Boris Karloff dari All-Star Spook Weekend! Persetan. Aku akan tetap menulisnya. Kalau dia tidak suka, silakan tuntut aku.
Seketika itu juga ia tersulut untuk segera naik ke kamarnya, tidak hanya agar ia dapat memulai malam panjangnya di sudut kamar hotel, tapi juga karena ia ingin mencatat apa yang Olin baru saja katakan selagi masih segar dalam pikirannya.
“Minum dulu, Pak Enslin.”
“Tidak, saya benar-benar—“
Pak Olin meraih ke dalam saku jasnya dan mengeluarkan sebuah kunci bergantungan tongkat tembaga panjang. Tembaga itu tampak tua dan tergores dan pudar. Tertulis di permukaannya adalah nomor 1408. “Tolong,” kata Olin. “Terima tawaran saya. Beri saya sepuluh menit dari waktu anda—cukup lama untuk menghabiskan segelas Scotch—dan saya akan memberi anda kunci ini. Saya ingin memberi nyaris apapun untuk dapat mengubah pikiran anda, tetapi saya ingin berpikir bahwa saya dapat melihat yang tak terhindarkan ketika saya melihatnya.”
“Di sini kalian masih menggunakan kunci manual?” tanya Mike. “Sentuhan yang unik. Antik.”
“Hotel Dolphin berganti menggunakan sistem MagCard pada 1979, Pak Enslin, pada tahun saya diangkat menjadi manajer. 1408 adalah satu-satunya kamar di tempat ini yang masih menggunakan kunci manual. Tidak ada gunanya menginstalasi sistem MagCard pada pintu kamar itu, sebab tidak pernah ada seorangpun yang meninggalinya; kamar itu terakhir dihuni pada 1978.”
“Yang benar saja!” Mike kembali duduk, dan mengeluarkan minicordernya lagi. ia menekan tombol record dan berkata, “Tuan rumah manajer Olin mengatakan kamar 1408 sudah dua puluh tahun tidak dihuni.”
“Juga karena kamar 1408 tidak membutuhkan sistem kunci MagCard pada pintunya, sebab saya yakin seratus persen alat tersebut tidak akan bekerja. Jam tangan digital tidak berfungsi di kamar 1408. Terkadang waktunya malah berjalan mundur, terkadang mati sendiri, namun anda tidak dapat memeriksa waktu dengan jam tersebut. Tidak pada kamar 1408. Hal yang sama juga terjadi pada kalkulator saku dan ponsel. Apabila anda memiliki pager, Pak Enslin, saya sarankan untuk mematikannya, karena begitu anda memasuki kamar 1408, benda itu akan mulai bersuara sendiri.” Ia berhenti sejenak. “Dan mematikannya belum tentu berhasil; benda itu bisa saja menyala sendiri. Satu-satunya cara yang pasti adalah melepas baterainya.” Ia menekan tombol stop pada minicorder tanpa melihat dulu tombol-tombolnya; Mike menduga ia menggunakan perekam yang serupa untuk mendikte catatan. “Sebenarnya, Pak Enslin, satu-satunya cara yang tepat adalah dengan tidak masuk ke dalam kamar terkutuk tersebut.”
“Tidak bisa,” kata Enslin, mengambil minicordernya kembali dan menyimpannya, “tetapi saya rasa boleh saja saya di sini sebentar untuk minum.”
Sementara Olin menuang minuman dari bar beraroma ek di bawah lukisan minyak Fifth Avenue yang menjelang akhir abad, Mike bertanya padanya bagaimana, apabila kamar tersebut tidak dihuni sejak 1978, Olin bisa tahu kalau alat-alat berteknologi tinggi tidak dapat bekerja di dalamnya.
“Maksud saya bukan tidak seorangpun pernah memasuki kamar itu sejak 1978,” jawab Olin. “Misalnya, ada pelayan kamar yang masuk sebulan sekali untuk sentuhan cepat. Artinya—“
Mike, yang tengah mengerjakan Sepuluh Kamar Hotel Berhantu selama hampir empat bulan pada saat itu, berkata, “Saya tahu itu artinya apa.” Sentuhan cepat pada kamar yang tak dihuni berarti membuka pintu untuk memutar hawa, membersihkan debu, cukup Ty-D-Bowl dari kaleng untuk sekilas mengubah air menjadi biru, mengganti handuk. Mungkin tidak termasuk seprai. Ia mulai berpikir apa seharusnya ia membawa kantong tidurnya.
Melintasi karpet dengan minuman mereka dalam tangannya, Olin tampaknya membaca pikiran Mike dari wajahnya. “Seprainya sudah diganti siang ini, Pak Enslin.”
“Kenapa formal sekali? Panggil saja saya Mike.”
“Saya rasa saya tidak akan nyaman memanggil anda begitu,” kata Olin, memberi Mike gelasnya, “Untuk keselamatan anda.”
“Dan anda.” Mike mengangkat gelasnya, berniat untuk menyulangkannya dengan gelas Olin, tetapi Olin memundurkan gelasnya.
“Tidak, tetap untuk anda, Pak Enslin. Saya memaksa. Malam ini kita berdua harus minum untuk keselamatan anda. Anda akan membutuhkannya.”
Mike mendesah, menyentuhkan pinggiran gelasnya pada gelas milik Olin, dan berkata: “Untuk saya. Anda akan sangat pantas berada dalam sebuah film horor, Pak Olin. Anda dapat berperan sebagai kepala pelayan muram yang mencoba memperingatkan sepasang pengantin baru untuk jauh-jauh dari Kastil Petaka.” Olin duduk. “Berkat Tuhan, Itu adalah peran yang untungnya tidak harus sering saya mainkan. Kamar 1408 tidak ada dalam situs yang mendaftar tempat-tempat paranormal atau titik pusat energi mistis—“
Dan itu akan berubah setelah bukuku selesai, batin Mike, menyesap minumannya.
“—dan tidak ada tur hantu yang berhenti pada Hotel Dolphin, walau mereka berhenti di Sherry-Netherland, Plaza, dan Park Lane. Kami mencoba agar kamar 1408 tidak terdengar oleh siapapun ... walau, tentu saja, sejarah mencatat keberadaan peneliti yang ulet sekaligus beruntung.”
Mike mengizinkan dirinya tersenyum kecil.
“Veronique bertugas mengganti seprai,” kata Olin. “Saya menemaninya. Anda sebaiknya merasa tersanjung, Pak Enslin; itu hampir seperti seprai malam anda dipasangkan oleh keluarga kerajaan. Veronique dan saudarinya bekerja di Dolphin sebagai pelayan kamar pada 1971 atau 72. Vee, kami memanggilnya, adalah karyawan terlama di Dolphin, dengan setidaknya enam tahun senioritas di atas saya. Saat ini ia sudah menjadi kepala pelayan. Saya rasa ia belum pernah mengganti seprai sekalipun dalam enam tahun ini, selain hari ini. Namun, ia dulu mengurus kamar 1408—ia dan saudarinya—sampai 1992. Veronique dan Celeste kembar, dan ikatan antara mereka seakan membuat mereka ... bagaimana saya mengatakannya? Bukan imun pada kamar 1408, tetapi kurang lebih begitu ... setidaknya dalam waktu yang cukup pendek untuk memberi sentuhan cepat pada kamar tersebut.”
“Anda tidak akan mengatakan bahwa saudari Veronique ini meninggal di kamar tersebut, kan?”
“Tidak, sama sekali tidak,” kata Olin. “Ia berhenti pada 1988 karena sakit. Tetapi saya tidak akan menyangkal kalau 1408 memang berperan pada kesehatan fisik dan jiwanya yang memburuk.”
“Tampaknya kita mulai menyusun daftar laporan buruk, Pak Olin. Saya harap saya tidak tampak tidak sopan dengan mengatakan pada anda bahwa itu konyol.”
Olin tertawa. “Benar-benar keras kepala untuk penganut dunia lamunan.”
“Saya berhutang pada pembaca saya,” kata Mike sopan.
“Saya rasa saya dapat meninggalkan 1408 sebagaimana mestinya sepanjang hari-hari siang dan malamnya,” lanjut sang manajer hotel. “Pintu terkunci, lampu mati, gorden tertutup untuk menghindarkan matahari melunturkan karpet, kain pembungkus furnitur terpasang, menu gantung sarapan di atas kasur ... tetapi saya tidak sanggup membayangkan udara yang terkungkup dan menua, seperti udara pada loteng. Tidak sanggup membayangkan debu yang menumpuk hingga menebal dan menggumpal. Apa sebutannya untuk orang seperti saya, rewel atau obsesif?”
“Saya menyebutnya manajer hotel.”
“Menurut saya pun begitu. Bagaimanapun, Vee dan Cee mengurus kamar tersebut—dengan cepat, masuk dan keluar—sampai Cee mengundurkan diri dan Vee mendapat promosi besar pertamanya. Setelah itu, saya menyuruh pelayan lain untuk melakukannya berpasangan, selalu memilih mereka yang akrab—“
“Berharap agar ikatan mereka merapal hantunya?”
“Berharap pada hubungan tersebut, benar. Dan anda boleh saja mengejek penunggu kamar 1408 sebanyak yang anda inginkan, Pak Enslin, tetapi saya yakin, anda akan segera merasakannya. Apapun yang tinggal di dalam kamar tersebut, ia tidak malu-malu.
“Seringkali—sebisa mungkin—saya turut masuk bersama pelayan tersebut, untuk mengawasi kerja mereka.” Ia berhenti, lalu menambahkan, dengan enggan, “Untuk mengeluarkan mereka, saya rasa, kalau sesuatu yang benar-benar buruk mulai terjadi. Namun tidak pernah terjadi. Beberapa di antaranya pernah mulai menangis histeris dan satu orang tertawa—saya tidak tahu kenapa orang yang tertawa histeris lebih menakutkan daripada yang menangis, tetapi itulah kenyataannya—dan beberapa yang pingsan. Tetapi tidak ada yang terlalu mengerikan. Berkat Tuhan.” Ia berhenti kembali, lalu menambahkan dengan nada yang ganjil dan datar, “Satu di antara mereka menjadi buta.”
“Apa?”
“Ia menjadi buta. Rommie Van Gelder, namanya. Ia tengah membersihkan debu di atas televisi, dan mendadak ia mulai berteriak. Saya tanya apa yang terjadi padanya. Ia menjatuhkan kain lapnya dan menutup matanya dengan tangan dan berteriak kalau ia menjadi buta ... dan ia dapat melihat warna-warna yang mengerikan. Jeritannya berhenti setelah saya mengeluarkannya dari pintu, dan ketika kami berjalan di koridor menuju elevator, penglihatannya mulai kembali normal.”
“Anda menceritakan ini hanya untuk membuat saya takut, benar bukan, Pak Olin? Untuk menakuti saya agar saya pergi.”
“Tidak. Anda sudah tahu sejarah kamar tersebut, yang dimulai dari penghuni pertamanya yang bunuh diri.”
Mike tahu. Kevin O Malley, salesman mesin jahit, yang mengakhiri hidupnya pada 13 Oktober 1910, penerjun bebas yang meninggalkan seorang isteri dan tujuh anaknya.
“Lima pria dan satu wanita telah melompat dari satu-satunya jendela di kamar itu, Pak Enslin. Tiga wanita dan satu laki-laki overdosis di kamar tersebut, satu di tempat tidur, dua di kamar mandi, satu di dalam bak mandi dan satu duduk terkulai di atas toilet. Satu orang gantung diri di dalam lemari baju pada 1970—“
“Henry Storkin,” kata Mike. “Yang itu mungkin kecelakaan ... asfiksia erotik.”
“Mungkin saja. Ada juga Randolph Hyde, yang menyayat pergelangannya, lalu sekalian memotong kelaminnya selagi ia mati kehabisan darah. Yang satu itu bukan asfiksia erotik. Intinya, Pak Enslin, bila tujuan anda tidak dapat dialihkan oleh catatan dua belas bunuh diri dalam rentang enam puluh delapan tahun, saya ragu fibrilasi ketar-ketir beberapa pelayan kamar dapat menghentikan anda.”
Fibrilasi ketar-ketir, kata-kata yang bagus, pikir Mike, dan berandai-andai apa ia dapat menggunakannya untuk bukunya.
“Hanya sedikit pasangan pengurus 1408 dalam beberapa tahun ini yang sanggup masuk lebih dari beberapa kali,” kata Olin, dan menyelesaikan minumannya dalam satu tegukan luwes.
“Kecuali pasangan kembar Prancis itu.”
“Vee dan Cee, benar.” Olin mengangguk.
Mike tidak terlalu peduli pada pelayan kamar dan, apa sebutan Olin? Fibrilasi ketar-ketir mereka. Ia memang merasa agak tersinggung oleh perunutan daftar bunuh diri Olin ... seolah Mike sebegitu tololnya hingga ia melewatkan, bukan fakta, melainkan makna tersiratnya. Kecuali, tentu saja, semua itu memang tidak ada maknanya. Abrahan Lincoln dan John Kennedy punya wakil bernama Johnson; kedua nama mereka punya tujuh huruf; keduanya terpilih pada tahun yang berakhiran 60. Dan apa makna semua kebetulan tersebut? Nol belaka.
“Daftar bunuh diri ini akan menambah bab yang bagus untuk buku saya,” kata Mike. “Tetapi karena perekam saya mati, saya dapat memberitahu anda semua ini akan berakhir pada apa yang kenalan saya, ahli statistik sumber sebut sebagai ‘efek gugusan.’”
“Charles Dickens menyebutnya ‘efek kentang,’” kata Olin.
“Maaf?”
“Ketika arwah Jacob Marley pertama kali berbicara pada Scrooge, Scrooge mengatakan dia hanya segumpalan moster dan kentang yang kurang matang.”
“Apa anda bermaksud melucu?” tanya Mike, sedikit dingin.
“Tidak satupun tentang ini yang menurut saya lucu, Pak Enslin. Tidak sama sekali. Tolong, dengar ini baik-baik. Saudari Vee, Celeste, meninggal karena serangan jantung. Saat itu ia tengah menderita penyakit Alzheimer tahap sedang, penyakit yang sudah ia derita sejak awal hidupnya.”
“Dan saudarinya sehat dan baik-baik saja, dari apa yang anda sebelumnya ceritakan. Malah, menjadi contoh kisah sukses Amerika. Begitu pula anda sendiri, Pak Olin, dari penampilan anda. Berapa kali anda sendiri keluar masuk dari kamar 1408? Seratus? Dua ratus kali?”
“Untuk waktu yang sangat pendek,” kata Olin. “Mungkin ibaratnya memasuki ruangan penuh gas beracun. Apabila seseorang menahan nafas, ia tidak akan kenapa-kenapa. Saya lihat anda tidak suka perbandingan tersebut. Anda tentunya menganggapnya berlebihan, bahkan konyol. Tetapi saya percaya itu perumpamaan yang bagus.”
Olin menangkupkan jari-jarinya di bawah dagu.
“Juga ada kemungkinan beberapa orang bereaksi lebih cepat dan lebih ganas pada apapun yang menghuni kamar tersebut, seperti beberapa orang yang lebih sering menyelam lebih rentan terjangkit penyakit dekompresi daripada orang lain. Dekat peringatan seabad beroperasinya Hotel Dolphin, karyawan-karyawan hotel semakin menyadari 1408 adalah kamar yang beracun. Tempat itu sudah menjadi bagian sejarah tempat ini, Pak Enslin. Tidak ada yang membicarakannya seperti bagaimana kami, dan kebanyakan hotel lain, tidak menyebut lantai ke empat belas sebagai lantai ke tiga belas ... tetapi mereka tahu. Bila seluruh fakta dan catatan yang berkaitan tentang kamar tersebut ada, itu akan menjadi bahan cerita yang luar biasa. ... Walau mungkin terlalu menggelisahkan untuk selera pembaca anda.
“Contohnya, saya dapat menebak setiap hotel di New York memiliki cerita bunuh dirinya masing-masing, tetapi saya bersedia mempertaruhkan nyawa saya bahwa hanya pada Hotel Dolphin, selusin di antaranya terjadi dalam kamar yang sama. Dan di luar kasus Celeste Romandeau, bagaimana dengan kematian atas sebab alami? Kematian atas sebab alami yang tersohor itu?”
“Ada berapa banyak?” pemikiran akan terjadinya kematian atas sebab alami di kamar 1408 tidak pernah terpikirkan olehnya.
“Tiga puluh,” jawab Olin. “Setidaknya tiga puluh. Itu jumlah yang saya tahu.”
“Bohong!” kata itu sudah keluar dari mulut Mike sebelum ia dapat menahannya.
“Tidak Pak Enslin, saya yakinkan anda, tidak. Apa anda benar-benar mengira kami membiarkan kamar itu kosong untuk menuruti takhyul atau tradisi New York yang konyol ... bahwa pada setiap hotel tua yang terawat, selalu ada satu arwah penasaran yang berkeliaran, menggemerincingkan rantainya yang tidak kasat mata?”
Mike Enslin sadar bahwa gagasan tersebut—tidak tertutur kentara tetapi memang ada, jadi sama saja—memang tersirat dalam buku Sepuluh Malamnya yang baru. Mendengar Olin mencemooh hal itu dengan nada tidak senang seperti ilmuwan mencemooh dukun yang melambaikan bruja tidak mengobati kekecewaannya.
“Dalam bisnis ini kami memiliki takhyul dan tradisi kami sendiri, tetapi kami tidak membiarkan hal tersebut menghambat bisnis, Pak Enslin. Ada pepatah tua di Midwest, tempat saya pertama terjun dalam bisnis ini: ‘Tidak ada kamar luang saat para peternak datang ke kota.’ Kalau ada kamar kosong, kami akan mengisinya. Satu-satunya pengecualian di peraturan tersebut yang saya buat sendiri—dan hanya bicarakan pada saat seperti ini—adalah kamar 1408, kamar yang berada di lantai ke tiga belas dengan jumlah angka yang juga adalah tiga belas.”
Olin menatap sejajar Mike.
“Itu satu-satunya kamar di mana tidak hanya terjadi bunuh diri, tetapi juga stroke dan serangan jantung dan serangan ayan. Seorang tamu di kamar tersebut—pada 1973—tenggelam dalam semangkuk sup. Anda pasti akan mengatakan itu konyol, tetapi saya sudah berbicara pada kepala keamanan hotel saat itu, dan ia sendiri sudah melihat sertifikat kematiannya. Kekuatan makhluk apapun yang menghuni kamar tersebut tampaknya berkurang di tengah hari, yang adalah saat di mana servis layanan kamar dilakukan, dan saya mengenal beberapa pelayan yang dulu mengurus kamar tersebut kini terjangkit penyakit jantung, empisema, diabetes. Tiga tahun lalu ada masalah penghangat ruangan di lantai itu, dan Pak Neal, kepala teknisi perbaikan saat itu, harus masuk ke dalam beberapa kamar untuk memeriksa unit pemanasnya. 1408 adalah salah satunya. Ia tampak baik-baik saja—selama berada di dalam dan setelah keluar—tetapi ia meninggal keesokan siangnya, akibat pembuluh darah otak yang pecah.”
“Kebetulan,” kata Mike. Namun ia tidak dapat menyangkal Olin pandai bercerita. Apabila ia menjadi pengawas kemping, ia sudah akan membuat sembilan puluh persen anak-anak asuhnya ketakutan sampai waktunya pulang dari satu sesi cerita seram di api unggun.
“Kebetulan,” ulang Olin pelan, tanpa terlalu merendahkan.
Ia mengulurkan kunci tua bergantungan tembaga tua tersebut.
“Bagaimana jantung anda sendiri, Pak Enslin? Belum lagi tekanan darah dan keadaan psikologis anda?”
Mike menyadari ia membutuhkan usaha secara sadar untuk mengangkat tangannya ... tetapi begitu ia sudah menggerakkannya, sisanya lancar. Tangannya meraih kunci tersebut tanpa semilipun getaran di ujung jarinya, sejauh yang bisa ia lihat.
“Baik-baik saja,” katanya, meremas gantungan tembaga tuanya. “Lagipula, saya sudah memakai baju Hawai keberuntungan saya.”
Olin memaksa untuk mengantar Mike ke lantai empat belas dengan elevator, dan Mike tidak menolak. Ia ingin kembali melihat lelaki itu keluar dari kantor manajer dan berjalan sepanjang koridor menuju elevator dalam wujudnya yang canggung; di mana ia sekali lagi menjadi Pak Olin yang malang, hanya lelaki gagal yang terjebak dalam genggaman tangan sang penulis.
Seorang pria dalam tuksedo—Mike menebaknya antara manajer restoran atau sang maitre d’—menghentikan mereka, menyerahkan pada Olin setumpuk kecil kertas, dan bergumam padanya dalam Bahasa Prancis. Olin balas bergumam, mengangguk, dan cepat menorehkan tanda tangannya di atas kertas-kertas tersebut. Pemusik di bar sekarang memainkan “Autumn in New York.” Dari tempat mereka berada sekarang, suaranya menggema, seperti musik yang terdengar dalam mimpi.
Lelaki bertuksedo itu berkata “merci bien” dan melanjutkan jalannya. Mike dan sang manajer hotel turut lanjut berjalan. Olin kembali bertanya apa ia bisa membawa bawaan Mike, dan Mike kembali menolak. Di dalam elevator, Mike menyadari ia menatap tombol-tombol yang berderet tiga dengan rapi. Semua pada tempatnya masing-masing, tanpa celah ... tapi, bila kau melihatnya lebih dekat, ada sesuatu yang tidak wajar. Tombol 12 diikuti dengan 14. Seolah-olah, pikir Mike, mereka dapat membuat nomor itu menghilang dengan menyembunyikannya dari tombol elevator. Benar-benar konyol ... namun tetap, Olin benar; hal itu dipraktekkan di seluruh dunia.
Sementara elevator naik, Mike berkata, “Saya penasaran pada satu hal, kenapa anda tidak mengarang penghuni fiktif untuk kamar 1408, kalau tempat itu membuat anda ketakutan seperti yang anda katakan? Dan lagi, Pak Olin, kenapa tidak menyebutnya sebagai tempat anda tinggal?”
“Saya rasa saya takut akan dituntut atas pasal penipuan, bila bukan karena seseorang yang memaksakan hak sipil dan federalnya—karyawan hotel memiliki perasaan yang sama terhadap hak sipil seperti, mungkin, pembaca anda pada gemerincing rantai di malam hari—dan pada atasan saya sendiri, kalau mereka sampai tahu. Bila saya tidak dapat membujuk anda untuk menjauhi kamar 1408, saya ragu saya akan lebih beruntung meyakinkan jajaran direktoral Stanley Corporation bahwa saya mencabut kamar yang bagus dari hak inap publik karena saya takut akan keberadaan makhluk tak kasat mata yang terkadang mengakibatkan salesman keliling melompat keluar jendela dan memecahkan dirinya di aspal Sixty-first Street.”
Mike menyadari ini adalah hal paling mencekam yang pernah Olin katakan.
Karena dia tidak lagi mencoba meyakinkanku, pikirnya. Kemampuan menjual yang ia miliki dalam kantornya—mungkin aura dari karpet Persia itu—hilang di sini. Kompetensi, masih ada, tampak ketika ia menandatangani bawaan sang maitre’d, tetapi tidak dengan kemampuan menjualnya. Tidak ada magnetisme pribadi. Tidak di luar sini. Tetapi dia percaya. Dia memang percaya semua itu.
Di atas pintu, nyala angka 12 mati dan digantikan 14.
Elevator berhenti. Pintu terbuka, menampakkan koridor hotel yang sangat normal dengan karpet merah-emas (bukan Persia) dan lampu listrik yang tampak seperti sumber cahaya dari abad ke sembilan belas.
“Kita sudah tiba,” kata Olin. “Lantai anda. Harap maafkan saya karena saya harus meninggalkan anda di sini. Kamar 1408 ada pada sebelah kiri anda, di ujung koridor. Kecuali harus, saya tidak lebih dekat daripada ini.”
Mike Enslin keluar dari elevator dengan kaki yang lebih berat daripada seharusnya. Ia berpaling pada Olin, lelaki tembam kecil dalam mantel hitam dan dasi berwarna anggur yang terpasang rapi. Tangan olin yang termanikur tergenggam di balik punggung, dan Mike melihat wajah lelaki kecil itu pucat seperti krim. Pada dahinya yang lebar dan mulus, titik-titik keringat sudah terbentuk.
“Ada telepon di kamar anda, tentu saja,” kata Olin. “Anda bisa mencobanya, kalau anda terkena masalah ... tetapi saya ragu benda itu akan bekerja. Tidak kalau kamar itu tidak mengizinkannya.”
Mike memikirkan balasan yang ringan, tentang bagaimana hal itu akan membuatnya hemat biaya layanan kamar, tetapi lidahnya seketika seberat kakinya. Balasan itu terkapar di permukaan lidah. Olin menarik satu tangan dari punggungnya, dan Mike melihat tangan itu gemetaran, “Pak Enslin,” katanya. “Mike. Jangan lakukan ini. Demi Tuhan—“
Sebelum ia dapat menyelesaikannya, pintu elevator menggeser menutup, memotongnya mentah-mentah. Mike diam di tempat selama beberapa saat, mendengar kesunyian hotel New York yang sempurna, pada lantai di mana tidak seorang karyawanpun sudi menyebutnya sebagai lantai ke tiga belas Hotel Dolphin, dan berpikir untuk meraih dan menekan tombol panggil elevator.
Namun bila ia melakukannya, Olin menang. Dan akan ada lubang menganga di mana bab terbaik dari buku barunya seharusnya ada. Pembaca mungkin tidak akan tahu, editor dan agennya tidak akan tahu, Robertson si pengacara tidak akan tahu ... tetapi ia akan tahu.
Dan bukannya menekan tombol panggil, ia menaikkan tangan dan menyentuh rokok di balik telinganya—gestur lama yang tidak lagi ia sadari selalu ia lakukan—dan menjentikkan kerah baju keberuntungannya. Kemudian ia berjalan sepanjang lorong menuju 1408, mengayunkan tas inapnya di sisinya.
_____________________________
Bagian II
Peninggalan paling menarik dari pengalaman menginap Mike Enslin yang singkat (sekitar tujuh puluh menit) di kamar 1408 adalah rekaman sepanjang sebelas menit dalam minicordernya, yang sedikit hangus tetapi jauh dari rusak. Hal yang menarik pada narasi di dalamnya adalah betapa sedikitnya rekaman yang ada. Dan betapa janggalnya rekaman tersebut.
Minicorder itu adalah hadiah dari mantan istrinya, yang hubungannya masih tetap baik, lima tahun lalu. Di “ekspedisi kasus”nya yang pertama (pertanian Rilsby di Kansas) ia membawa benda itu hampir sebagai renungan, beserta lima legal pad dan koper kulit penuh pensil terserut runcing. Tiga buku kemudian, ia datang dengan satu pena dan satu buku catatan di kamar 1408, ditambah lima kaset berdurasi sembilan puluh menit di luar dari yang sudah ia masukkan ke dalam mesin tersebut sebelum meninggalkan apartemennya.
Ia segera belajar bahwa menarasikan jauh lebih mudah daripada menulis catatan. Ia dapat menangkap anekdot; beberapa di antaranya benar-benar sangat bagus, yang biasa terucap spontan—seperti saat sekawanan kelelawar terjun bebas kepadanya di Kastil Gartsby yang semestinya berhantu. Ia pernah menjerit seperti perempuan pada kunjungan pertamanya ke rumah hantu karnival. Teman-temannya senang mendengarnya.
Perekam tape kecil itu juga lebih praktis daripada tulisan di atas kertas, terutama kalau kau berada di kuburan New Brunswick yang dingin dan hujan angin merubuhkan tendamu pada jam tiga subuh hari. Kau tidak akan bisa menulis, tetapi kau bisa berbicara ... seperti yang Mike lakukan, terus-menerus berbicara sementara ia berusaha keluar dari lipatan tendanya yang basah dan berkelepak-kelepak, tidak sekalipun melepaskan pandangan dari mata merah minicorder tersebut. Bertahun-tahun dan beberapa “ekspedisi kasus” kemudian, minicorder Sony itu menjadi temannya. Ia tidak pernah merekam satupun kejadian supernatural sungguhan dalam pita-pita perekamnya yang tipis, dan itu termasuk potongan-potongan narasinya di 1408, tetapi tidak heran ia menumbuhkan perasaan sayang pada alat tersebut. Supir truk lintas negara menumbuhkan perasaan sayang pada Kensworth dan Jimmy-Petes; para penulis menganggap pena-pena tertentu atau mesin tik babak belur sebagai harta; wanita pembersih profesional tidak akan sudi menyerahkan Electrolux tua mereka. Mike tidak pernah menghadapi hantu atau kejadian psikokinetik sungguhan dengan bersenjatakan minicorder itu—versinya untuk salib dan bawang putih—tetapi benda itu menemaninya di banyak malam panjang dan tak nyaman. Ia memang keras kepala, tetapi bukannya tidak manusiawi.
Masalahnya dengan kamar 1408 sudah dimulai bahkan sebelum ia masuk ke dalamnya.
Pintu masuknya miring.
Tidak banyak, tetapi memang miring, sedikit doyong ke arah kiri. Pintu itu membuatnya teringat pada film-film horor generasi pertama, di mana pengarah film mencoba memvisualisasikan tekanan mental salah satu karakternya dengan memiringkan kamera saat pengambilan sudut pandang orang pertama. Pengandaian ini disertai contoh lain—bagaimana pintu akan tampak di atas kapal yang berlayar di tengah cuaca buruk. Maju mundur, kiri kanan, tik tak tik tak, sampai kau akhirnya merasa pusing di kepala sekaligus perutmu. Bukannya ia merasakannya sekarang, sama sekali tidak, tapi—
Aku memang merasakannya. Hanya sedikit.
Dan ia pasti sudah akan mengatakannya, bila bukan karena penyekatan yang Olin lakukan hingga membuatnya mustahil untuk tetap objektif dalam bidang okultisme yang sudah pasti subjektif.
Ia membungkuk (sadar akan hilangnya perasaan mual dalam perutnya ketika ia tidak lagi menatap pintu yang hanya sedikit doyong tersebut), membuka retsleting saku tas inapnya, dan mengeluarkan minicordernya.
Ia menekan record seiring menegakkan badan, menatap lampu merah kecil menyala, dan membuka mulut untuk mengatakan, “Pintu kamar 1408 punya sambutannya sendiri yang menarik; tampilannya dibuat miring, sedikit ke arah kiri.”
Ia mengatakan Pintu, dan cuma itu. Bila kau mendengar rekamannya, kau dapat mendengar kata itu dengan jelas. Hanya Pintu dan suara klik tombol stop, karena pintu di depannya tidak miring. Pintu itu tegak lurus. Mike berpaling, melihat 1409 di seberangnya, lalu kembali pada 1408. Kedua pintu tersebut tampak sama persis, berpelat keemasan dengan gagang pintu yang juga keemasan. Keduanya sama-sama tegak lurus.
Mike membungkuk, mengambil tasnya dengan tangan yang memegang minicorder, menggerakkan kunci di tangan satunya mendekati slot kunci kamar, dan berhenti lagi.
Pintu itu kembali miring.
Kali ini ke arah kanan.
“Ini konyol,” gumam Mike, namun perasaan mirip mabuk laut itu kembali bergolak dalam perutnya. Bukan mirip; itu memang mabuk laut. Ia pernah menyebrang ke Inggris di atas QE2 beberapa tahun lalu, dan satu malam di antaranya benar-benar berat. Mike ingat jelas ia berbaring di atas kasur kabin, selalu merasa di ambang muntah tetapi tidak pernah sampai sanggup melakukannya. Dan bagaimana perasaan mual dan pusing itu semakin buruk ketika kau menatap ambang pintu … atau meja … atau kursi … pada bagaimana mereka bergerak maju dan mundur … kiri dan kanan … tik dan tak ….
Ini gara-gara Olin, pikirnya. Sesuai keinginannya. Dia sengaja menakutimu dulu, kawan. Dia menyiapkanmu. Wah, bayangkan bagaimana dia tertawa kalau bisa melihatmu sekarang. Bagaimana—
Lamunannya terhenti saat ia menyadari Olin kemungkinan besar dapat melihatnya. Mike berpaling pada koridor yang menuju elevator; hampir tak sadar perasaan mual dalam perutnya hilang saat ia tak lagi menatap pintu itu. Di kiri atas elevator, ia menemukan dugaannya: kamera pengintai. Salah satu bajingan hotel itu mungkin sedang menontonnya. Mike bertaruh Olin berdiri di sampingnya; keduanya menyeringai seperti kera. Pelajaran untuk si sok jago yang membawa-bawa pengacaranya ke sini, kata Olin. Lihat dia! Balas si sekuriti, menyeringai semakin lebar. Sepucat hantu, dan dia bahkan belum menyentuh lubang kuncinya. Kau berhasil, bos! Memancingnya mentah-mentah seperti ikan!
Terkutuklah, pikir Mike. Aku bermalam di rumah Rilsby, tidur dalam kamar di mana setidaknya dua dari mereka mati dibantai—dan aku benar-benar tidur, entah kalian percaya atau tidak. Aku menghabiskan satu malam di sebelah kuburan Jeffrey Dehmer dan dua nisan jauhnya dari makam HP Lovecraft; aku menyikat gigi di sebelah bak mandi tempat Sir David Smythe diduga menenggelamkan kedua istrinya. Aku sudah lama tidak lagi takut pada cerita seram api unggun. Terkutuklah kalau kalian pikir kalian berhasil!
Ia kembali melihat pintu itu dan pintu itu tegak lurus. Ia menggeram, memasukkan kunci ke dalam lubang kunci, dan memutarnya. Pintu terbuka. Mike melangkah masuk. Pintu itu tidak mengayun perlahan di belakangnya saat ia mencari tombol lampu kamar, meninggalkannya di tengah kegelapan total (lagipula, cahaya dari gedung apartemen tetangga masuk dari luar jendela). Ia menemukan tombolnya. Ketika ia menekannya, lampu di tengah kamar, yang terbungkus dalam gantungan hiasan kristal, menyala. Begitu pula lampu lantai di samping meja di seberang ruangan.
Jendela tersebut ada di atas meja, jadi seseorang yang sedang duduk dan menulis di sana dapat berhenti sewaktu-waktu untuk melihat Sixty-first Street … atau melompat, kalau mendadak ia ingin melakukannya. Kecuali—Mike menaruh tasnya tepat di balik pintu, menutup pintu, dan menekan tombol record lagi. Sinar merah kecil menyala. “Menurut Olin, enam orang sudah melompat dari jendela yang sekarang sedang aku lihat,” katanya, “tapi malam ini aku tidak akan terjun dari lantai empat belas—maaf, lantai tiga belas—Hotel Dolphin ini. Ada jaring kawat besi di luar. Lebih baik aman daripada celaka. 1408 mungkin adalah yang kamar orang-orang sebut sebagai junior suite. Ruangan tempatku berada memiliki dua kursi, satu sofa, satu meja tulis, lemari kabinet yang mungkin berisi TV atau minibar. Karpet lantainya tidak istimewa—tidak dapat dibandingkan dengan milik Olin, percayalah. Kertas dinding, juga sama. Tunggu … itu ….”
Pada titik ini para pendengar mendengar suara klik saat Mike menekan stop lagi. Semua rekaman di tape ini memiliki kualitas potongan serupa, yang jelas sangat berbeda dengan seratus lima puluh lebih rekaman lain yang agen bukunya simpan. Sebagai tambahan, suaranya mulai bertambah tidak fokus; bukan suara lelaki yang sedang bekerja, tetapi suara seseorang yang kebingungan dan tanpa sadar mulai berbicara pada dirinya sendiri. Suara putaran tape dan perubahan nada yang kian menjadi-jadi memberi perasaan tidak nyaman pada sebagian besar pendengarnya. Banyak yang meminta rekaman itu dimatikan jauh sebelum mencapai akhir. Kata-kata cetak di atas kertas tidak dapat mengemulasikan keyakinan seorang pendengar, bahwa ia tengah mendengarkan suara seorang lelaki yang kehilangan, bila bukan kewarasannya, maka pegangannya akan realita. Tetapi bahkan kata-kata tercetak saja cukup untuk mengesankan sesuatu yang tengah terjadi pada pembicaranya.
Apa yang Mike sadari pada titik itu adalah gantungan-gantungan gambar pada dinding. Ada tiga gambar: seorang wanita bergaun malam dengan fashion tahun 20an, sedang berdiri di anak tangga teratas; kapal yang tengah berlayar dalam gaya Currier & Ives; dan lukisan buah-buahan yang memberi nuansa kuning-jingga tak menyenangkan pada apel, jeruk, dan pisangnya. Ketiga gambar tersebut dilapisi kaca dan ketiganya tergantung miring. Ia sudah menyebut sesuatu tentang kemiringan dalam rekamannya, tetapi apa yang begitu aneh, sampai harus ia beri komentar, pada tiga gambar yang tergantung miring? Pintu yang miring, nah itu punya daya tarik ala Cabinet of Dr. Caligari. Tapi pintu itu tidak pernah miring; ia salah lihat, hanya itu.
Gambar si wanita di atas tangga miring ke kiri. Begitu pula dengan kapal layar, yang menampakkan pelaut-pelaut Inggris bercelana betis lebar, berbaris sepanjang pagar geladak sambil menonton kawanan ikan terbang. Buah jingga-kekuningan itu—bagi Mike buah-buahan itu seolah dilukis oleh matahari khatulistiwa yang menyesakkan, matahari padang pasirnya Paul Bowles—miring ke kanan. Walau biasanya bukan orang yang rewel, ia segera memutari ruangan, dan meluruskan gambar-gambar tersebut. Melihat gambar-gambar miring itu membuatnya merasakan mabuk itu kembali. Ia tidak sepenuhnya terkejut. Seseorang dapat mudah merasakan itu, sesuatu yang ia pelajari di QE 2. Ia diberitahu apabila seseorang menguji kerentanannya terus-menerus, ia biasanya akan mendapat … “kaki laut,” meminjam istilah orang tua. Mike belum cukup banyak berlayar untuk mendapat kaki lautnya, tetapi ia tidak peduli. Ia lebih sering menggunakan kaki daratnya, dan bila meluruskan tiga gambar gantung di ruang tamu kamar 1408 yang tidak istimewa akan menenangkan perutnya, itu sudah cukup.
Ada debu pada permukaan kaca yang menutup gambar itu. Ia menyapukan jemarinya pada lukisan buah dan meninggalkan dua garis panjang sejajar. Debu itu terasa licin dan berminyak. Seperti kain sutera tepat sebelum busuk adalah apa yang masuk di pikirannya, tetapi terkutuklah kalau ia akan merekam itu ke dalam tape. Bagaimana ia bisa tahu seperti apa rasanya permukaan sutera yang tepat sebelum busuk? Pikiran orang mabuk.
Begitu gambar-gambar itu tegak lurus, ia melangkah mundur dan memandangi semuanya: si wanita bergaun malam ada di samping pintu kamar tidur, kapal layar di salah satu tujuh samudra ada di kiri meja tulis, dan gambar buah-buahan yang jelek (dan dilukis dengan tidak ahli) ada di samping lemari kabinet TV. Sebagian dari dirinya menduga gambar-gambar itu nantinya akan kembali miring, atau merosot miring selagi ia pandangi—seperti yang biasa terjadi di film-film seperti House on Haunted Hill dan episode awal Twilight Zone—tetapi gambar-gambar itu tetap tegak lurus, sebagaimana ia susun sendiri. Bukan berarti, pikirnya pada dirinya sendiri, penyebabnya pasti berkaitan dengan hal yang supernatural atau paranormal bila gambar-gambar itu kembali miring. Dari pengalamannya, segala sesuatu akan kembali ke asalnya secara alami—orang-orang yang berhenti merokok (ia menyentuh rokok di atas telinganya tanpa sadar) akan ingin tetap merokok, dan gambar-gambar yang tergantung miring sejak Nixon menjadi Presiden akan ingin tetap tergantung miring. Dan tak diragukan lagi, gambar-gambar ini sudah ada di sini lama sekali, batin Mike. Kalau aku mengangkatnya, aku akan melihat bentuk petak yang lebih cerah pada kertas dinding di baliknya. Atau serangga merayap keluar, seperti yang terjadi kalau kau membalikkan batu di atas tanah.
Ada sesuatu yang mengejutkan dan menjijikkan pada pemikiran tersebut; ia mendapat gambaran jelas akan kumbang-kumbang putih buta menumpah keluar seperti nanah hidup dari balik perlindungan kertas dinding yang pucat tersebut.
Mike menaikkan minicordernya, menekan record, dan berkata: “Olin jelas-jelas sudah memberi rangkaian sugesti ke dalam pikiranku. Atau yang benar jalinan sugesti? Dia bercerita seram untuk memberiku heebie-jeebies, dan dia memang berhasil. Bukan bermaksud …” Bukan bermaksud apa? Rasis? Bukannya heebie-jeebies itu pelesetan dari Hebrew-jeebies? Tapi itu konyol. Kalau begitu yang benarnya jadi “Hebrew-jeebrews,” ungkapan yang tidak ada artinya. Itu—
Pada rekaman titik itu, dengan datar dan dengan sangat jelas, Mike Enslin berkata: “Aku harus mengembalikan diriku. Sekarang juga.” Ini diikuti dengan suara klik lain saat ia mematikan perekamnya.
Ia menutup mata dan mengambil empat nafas panjang, menahan tiap tarikan selama lima hitungan sebelum mengembuskannya. Ini tidak pernah terjadi padanya—tidak pada rumah yang semestinya berhantu, atau kastil yang seharusnya berhantu. Ini tidak seperti dihantui, atau setidaknya apa yang ia anggap rasanya dihantui; ini rasanya seperti mabuk akibat minuman keras yang murah dan jelek.
Olin penyebabnya. Olin menghipnotismu, tetapi kau akan lepas dari itu. Kau akan menghabiskan malammu di kamar ini, dan bukan hanya karena ini lokasi terbaik yang pernah kau tinggali—abaikan Olin dan kau sudah punya cukup cerita hantu untuk dekade ini—tetapi karena Olin tidak akan menang. Dia dan omong kosongnya tentang bagaimana tiga puluh orang mati di dalam sini, tidak akan menang. Akulah yang mengontrol omong kosong di tempat ini, jadi tarik nafas ... hembuskan. Tarik nafas ... hembuskan. Tarik ... dan hembus ....
Ia melakukannya selama hampir sembilan puluh detik, dan ketika ia membuka matanya lagi, ia merasa normal. Gambar-gambar di dinding? Masih tegak lurus. Buah di dalam mangkuk? Masih kuning-jingga dan tampak semakin jelek saja. Pasti kudapan. Makan satu dan kau akan berak sampai mampus. Ia menekan record. Lampu merah kecil menyala. “Aku sedikit pusing selama semenit dua menit,” katanya, menyebrangi kamar menuju meja tulis dan jendela dengan kawat pelindungnya di luar. “Mungkin mabuk akibat racauan Olin, tetapi sepertinya aku merasakan keberadaan sesuatu di tempat ini.” Tentu saja ia tidak merasakan hal semacam itu, tetapi begitu sudah terekam ia boleh mengubahnya sesuka hati. “Udaranya pengap. Tidak lembab atau berbau busuk; Olin mengatakan jendela kamar ini dibuka setiap giliran sentuhan cepat, tetapi pengurusannya singkat dan ... yah ... pengap. Hei, lihat ini.”
Ada asbak di atas meja tulis, jenis berbahan kaca tebal yang biasa kau temukan di hotel manapun, dan di dalamnya ada sebungkus korek api. Pada bagian depannya tampak Hotel Dolphin dan seorang penjaga pintu yang tersenyum. Ia mengenakan seragam hotel yang sangat tua, jenis yang memiliki pelapis bahu berbentuk kotak berhiaskan rumbai-rumbai emas, dan topi yang tampaknya lebih cocok ada di bar homo, bertengger di atas kepala setan jalanan yang telanjang bulat, di luar beberapa cincin tanam perak. Pada kedua sisi jalan Fifth Avenue di depan hotel, tampak mobil-mobil dari era lain—Packards dan Hudsons, Studebakers dan Chrysler New Yorker yang bersirip.
“Bungkus korek api dalam asbak ini tampak seolah berasal dari 1955,” kata Mike, dan memasukkannya ke dalam kemeja Hawai keberuntungannya. “Kuambil sebagai suvenir. Sekarang saatnya udara segar.”
Ada suara ketak kecil saat ia menaruh minicordernya, mungkin di atas meja tulis. Ada jeda diikuti suara tidak jelas serta beberapa gerungan penuh tenaga. Kemudian terjadi jeda lagi yang diikuti suara decitan. “Berhasil!” katanya. Yang pertama agak jauh dari perekam, namun yang setelahnya terdengar lebih dekat.
“Berhasil!” ulang Mike, mengambil minicordernya dari atas meja.
“Separuh bagian bawahnya tidak mau bergerak ... seolah terpaku mati ... tetapi paruh atasnya turun dengan mulus. Aku bisa mendengar suara lalu lintas Fifth Avenue, dan klakson-klakson yang memberi efek menenangkan. Seseorang sedang memainkan saksofon, mungkin di depan Plaza yang ada di seberang jalan dan jaraknya sejauh dua blok. Mengingatkan pada kakak laki-lakiku.”
Mike berhenti mendadak, menatap pada mata merah kecil. Mata itu seolah menudingnya. Kakak? Kakak laki-lakinya sudah mati, tentara yang gugur di medan perang tembakau. Kemudian ia tenang kembali. Memang kenapa? Dalam medan perang dunia gaib, Michael Enslin selalu menjadi pemenangnya. Untuk nasib Donald Enslin ....
“Kakak laki-lakiku sebenarnya disantap serigala di musim dingin gerbang tol Turnpike,” katanya, lalu tertawa dan menekan stop. Masih ada sisa rekaman—sedikit lebih banyak lagi—tetapi ini adalah kalimat terakhir yang masuk akal ... atau setidaknya pernyataan terakhir yang masih memiliki arti jelas.
Mike berbalik dan melihat pada gambar-gambar gantung. Masih bergantung lurus, gambar-gambar baik yang penurut. Tetapi lukisan buah itu, aduh—jeleknya bukan main!
Ia menekan record dan mengatakan dua kata—jeruk berasap—ke dalam minicorder. Kemudian ia mematikannya dan berjalan menyebrangi ruang menuju ambang pintu kamar. Ia berhenti di samping si wanita bergaun malam dan meraih ke dalam gelap, mencari tombol lampu kamar. Ia hanya sekilas merasakan
(seperti kulit seperti kulit tua mati)
ada yang salah dengan kertas dinding di bawah telapak tangannya, dan kemudian jarinya menemukan tombol lampu. Kamar tidur terbanjiri cahaya kekuningan dari salah satu sumber cahaya di langit-langit yang tertimbun hiasan kaca gantung. Kasurnya berukuran dobel, tersembunyi di bawah selimut kuning-jingga.
“Kenapa sebutnya tersembunyi?” tanya Mike pada minicorder, lalu menekan tombol stop lagi. Ia masuk, terpesona oleh selimut padang pasir di depannya, dan gundukan tumor bantal-bantal di bawahnya. Tidur di dalam sana? Tidak sudi, pak! Rasanya akan seperti tidur di dalam lukisan terkutuk itu, di dalam kamar panas Paul Bowles yang tidak jelas penampakannya, kamar untuk bangsawan Inggis yang buta akibat sifilis, tertangkap sedang menyetubuhi ibu kandungnya, pada film yang memperkenalkan Laurence Harvey atau Jeremy Irons, aktor-aktor yang langsung kau asosiasikan dengan tindakan tidak senonoh—
Mike menekan record, lampu merah kecil menyala, dan berkata, “Orpheus di teater Orpheum!” pada mic, lalu menekan stop lagi. Ia mendekati kasur. Selimut itu menyala kuning-jingga. Kertas dindingnya, mungkin berwarna krim pada siang hari, kini menyerap warna kuning-jingga selimut tersebut. Ada meja malam kecil di kedua sisi kasur. Di atas salah satunya terdapat sebuah telepon—hitam dan besar dan terpasangi pemutar nomor sambung. Lubang-lubang pada pemutar itu tampak seperti mata-mata putih yang membelalak terkejut. Pada meja satunya tergeletak sebuah piring dengan buah plum di atasnya. Mike menekan record dan mengatakan: “Ini bukan plum sungguhan. Plum plastik.” Ia menekan stop lagi.
Di atas kasur itu terdapat menu gantung pintu untuk sarapan. Mike berjalan di satu sisi kasur, berhati-hati untuk tidak menyentuh kasur maupun dinding, dan mengambil menu itu. Ia mencoba untuk tidak menyentuh selimut, tetapi ujung jarinya menyapu permukaannya dan itu membuatnya mengerang. Rasanya halus dengan cara yang amat salah dan mengerikan. Bagaimanapun, ia mengambil menu tersebut. Tertulis dalam bahasa Prancis, dan walau sudah bertahun-tahun lamanya sejak ia belajar bahasa tersebut, salah satu menu sarapannya tertulis sebagai burung panggang saus berak. Setidaknya itu terdengar seperti sesuatu yang akan orang Prancis makan, pikirnya, dan ia mengeluarkan tawa liar tak terkendali.
Ia menutup mata dan membuka mata.
Menu itu berbahasa Rusia.
Ia menutup mata dan membuka mata.
Menu itu berbahasa Italia.
Menutup mata, membuka mata.
Tidak ada menu. Ia melihat gambar ukiran kayu seorang anak yang menjerit dan melihat ke belakang pada serigala ukiran kayu yang menelan kaki kiri si anak sampai ke lutut. Telinga serigala itu menekuk ke belakang dan ia tampak seperti seekor terrier dengan mainan kesayangannya.
Ini bukan apa yang aku lihat, pikir Mike, dan tentu saja tidak. Tanpa menutup mata ia dapat melihat barisan-barisan rapi berbahasa Inggris, setiap barisnya berisi sajian-sajian sarapan yang berbeda. Telur, wafel, buah beri segar; tidak ada burung panggang saus berak. Tapi—
Ia berputar dan dengan sangat pelan menjauhkan dirinya dari celah sempit antara dinding dan kasur, celah yang sekarang terasa sama sempitnya seperti liang kubur. Jantungnya berdegup sangat kencang hingga ia dapat merasakannya pada leher dan lengan dan juga dadanya. Matanya berdenyut sakit dalam cekungannya. 1408 memang salah. 1408 memang sangat salah. Olin mengatakan sesuatu tentang gas beracun, dan itu adalah apa yang Mike rasakan: seseorang yang dicekoki gas atau dipaksa mengisap ganja bercampur racun serangga. Olin pelakunya, tentu saja, mungkin masih tertawa bersama kawan-kawan sekuritinya. Memompakan gas beracun mereka lewat ventilasi udara. Hanya karena ia tidak dapat melihatnya bukan berarti tidak ada ventilasi.
Mike menatap ke seluruh ruangan dengan mata membelalak ketakutan. Tidak ada plum di atas meja sebelah kiri kasur. Juga tidak ada piring. Meja itu kosong. Ia berbalik, mulai berjalan pada pintu ke ruang tamu, dan berhenti. Ada gambar gantung di dinding. Ia tidak bisa sepenuhnya yakin—dalam keadaannya sekarang Mike bahkan tidak bisa yakin pada namanya sendiri—tapi ia lumayan yakin bahwa tidak ada gambar gantung di tempat itu saat ia pertama kali masuk. Gambar itu adalah sebuah lukisan. Sebuah plum di atas piring logam di tengah meja kayu tua. Cahaya yang menyinari plum dan piring itu berwarna kuning-jingga yang memuakkan.
Cahaya-tango, pikirnya. Jenis cahaya yang membangkitkan yang mati dari kubur dan berdansa tango. Jenis cahaya—
“Aku harus keluar dari sini,” bisiknya, dan segera tergopoh ke ruang tamu. Ia mulai sadar sepatunya memperdengarkan suara decap yang janggal, seolah lantai di bawah pijakannya mulai mengendur.
Gambar-gambar pada dinding ruang tamu kembali miring, dan juga menampakkan perubahan lain. Wanita di atas tangga telah melorotkan bagian atas gaunnya, menampakkan dadanya yang telanjang. Ia menangkup payudaranya dengan kedua tangan, di mana setetes darah menggantung dari tiap puting. Ia menatap langsung mata Mike dan menyeringai ganas. Seluruh giginya runcing kanibal. Pada pagar kapal yang berlabuh, jaringnya telah berganti dengan barisan pria dan wanita berwajah pucat. Lelaki di ujung kiri, yang paling dekat dengan haluan, memakai jas wol cokelat dan memegang topi derbi di satu tangan. Rambutnya mencapai alis dan berbelah tengah. Ekspresinya tampak terkejut dan hampa. Mike tahu namanya: Kevin O Malley, si penghuni pertama, salesman mesin jahit yang melompat dari kamar ini pada 1910. Deretan di sebelah kiri O Malley adalah mereka yang telah mati di sini, kesemuanya menampakkan ekspresi terkejut yang hampa. Ekspresi itu seolah mengesankan mereka semua berhubungan darah; keluarga besar yang saling mengawini saudara kandung dan berbagi penyakit keterbelakangan mental.
Pada gambar di mana sebelumnya ada buah, kini tampak sebuah kepala terpenggal. Cahaya kuning-jingga menyelimuti pipi yang kempot, bibir yang dower, mata yang berkilap, melotot ke atas kepala. Sebatang rokok tampak menggantung di balik telinga kanan.
Mike tergopoh menuju pintu, langkahnya mendecap dan sekarang mulai menghambat tiap langkahnya. Pintunya tidak bisa terbuka, tentu saja. Rantainya tidak tergantung di kaitan, grendel pintu tegak lurus seperti jam dinding yang menunjukkan pukul jam enam tepat, tetapi pintunya tidak mau terbuka.
Bernafas cepat, Mike berpaling dari pintu dan mengarungi—memang itulah yang ia rasakan sekarang—ruangan ke meja tulis. Ia dapat melihat gorden di sebelah jendela yang ia buka tengah berkibar liar, tetapi ia tidak dapat merasakan udara segar pada wajahnya. Seolah kamar tersebut menelan angin yang masuk. Ia masih dapat mendengar klakson dari Fifth, tetapi asalnya seolah dari tempat yang sangat jauh. Apa ia masih mendengar suara saksofon? Bila iya, maka ruangan tersebut telah mencuri melodinya yang manis dan hanya meninggalkan suara dengung melengking tanpa nada, seperti angin yang menghembus lewat lubang leher mayat orang atau botol soda penuh jari-jari terpotong atau—
Hentikan, ia coba katakan, tetapi ia tidak lagi dapat berbicara. Jantungnya berdegup dengan kecepatan yang mengerikan; bila lebih cepat lagi, jantungnya akan meledak. Minicordernya, pendamping setianya pada banyak “ekspedisi kasus,” tidak lagi ada di tangannya. Ia telah meninggalkannya di suatu tempat. Di dalam kamar tidur? Bila ada di kamar tidur, mungkin sekarang telah hilang, ditelan kamar itu, dan begitu selesai dicerna, akan diberakkan ke dalam isi salah satu gambar gantungnya.
Terengah-engah seperti pelari yang hampir menyelesaikan trek panjang, Mike menaruh tangan ke dadanya, seolah untuk menenangkan jantungnya. Apa yang ia rasakan di kantung dada kiri kausnya yang longgar adalah bentuk kotak kecil dari minicorder. Rasa dari bentuk itu, sangat padat dan ia kenal baik, memantapkannya sedikit—membawanya kembali sedikit. Ia mulai sadar kalau ia tengah bersenandung ... dan kamar itu seolah balas bersenandung, seolah ada ratusan mulut yang tertanam di bawah kertas dindingnya yang halus dan menjijikkan. Ia mulai sadar perutnya begitu mual seolah tengah berayun sendiri dengan gantungannya yang berminyak. Ia dapat merasakan udara mulai menggumpal pada telinganya, dan itu membuatnya berpikir akan seperti apa rasanya begitu sampai pada titik yang lebih padat.
Tetapi ia telah sedikit sadar, dan cukup untuk yakin pada satu hal: ia harus memanggil bantuan selagi masih ada waktu. Bayangan Olin yang tersenyum (dengan gaya manajer hotelnya yang tulus memuji) dan mengatakan saya bilang apa tidak mengganggunya, dan pemikiran bahwa Olin entah bagaimana telah menyuntikkan persepsi aneh dan rasa takut yang mengerikan lewat cara-cara kimia sudah tidak lagi ada di pikirannya. Memang kamar ini penyebabnya. Kamar terkutuk ini.
Ia bermaksud untuk menghujamkan tangannya pada telepon model lama—kembaran dari yang ada di kamar tidur—itu dan meraupnya. Namun ia malah melihat tangannya turun ke atas meja dalam gerak lambat yang memabukkan; begitu mirip tangan seorang penyelam hingga ia hampir menantikan gelembung-gelembung yang bermunculan, mengambang naik dari tangannya.
Ia merapatkan jari-jarinya pada pegangan telepon tersebut dan mengangkatnya. Tangan satunya menyelam, sepelan yang pertama, dan memutar angka 0. Begitu ia menaruh gagang itu ke telinganya, ia mendengar serangkaian suara klik sementara pemutarnya kembali ke posisi awal. Mengingatkannya pada Wheel of Fortune, mau putar atau pecahkan teka-tekinya? Harap ingat kalau anda mencoba memecahkannya dan gagal, anda akan dilempar ke atas salju di sebelah gerbang tol Connecticut dan serigala-serigala akan menyantap anda.
Tidak ada nada sambung pada telinganya. Malah, ia mendengar suara kasar yang mulai berbicara. “Ini sembilan! Sembilan! Ini sembilan! Sembilan! Ini sepuluh! Sepuluh! Kami sudah membunuh teman-temanmu! Semua temanmu sudah mati! Ini enam! Enam!”
Mike mendengarkan dengan kengerian yang bertambah besar, bukan pada apa yang suara itu katakan tetapi pada keparauannya yang kosong. Itu bukan suara mesin, tetapi juga bukan suara manusia. Itu adalah suara kamar tersebut. Keberadaan yang menumpah keluar dari balik dinding dan lantai, keberadaan yang berbicara padanya lewat telepon, tidak mirip dengan satupun pengalaman paranormal yang pernah ia baca. Asalnya sesuatu yang lebih asing.
Belum, belum di sini ... tetapi segera. Dia lapar, dan kau hidangan santap malamnya.
Ia berpaling. Gagang telepon itu jatuh dari jari-jarinya yang melemas dan berayun maju mundur di ujung kabel seperti isi perutnya, ia masih dapat mendengar suara serak dari warna hitam tersebut: “Delapan belas! Ini delapan belas! Berlindunglah saat sirine menyala! Ini empat! Empat!”
Ia tidak sadar sudah mengambil rokok di belakang telinganya dan menaruhnya ke dalam mulut, maupun merogoh bungkus korek api yang bergambar penjaga pintu berseragam lampau dengan rumbai emasnya dari saku kanan kemejanya yang berwarna cerah. Tidak sadar bahwa, setelah sembilan tahun, ia akhirnya mulai merokok kembali.
Di hadapannya, kamar itu mulai meleleh.
Kamar itu melunturkan sudut-sudut dan garis-garisnya yang lurus, tidak membentuk kurva tetapi lengkungan Moor yang menyakiti matanya. Kandelir kaca di tengah ruangan mulai menggumpal seperti riak ludah yang menggantung. Gambar-gambar pada dinding mulai membengkok, membentuk seperti wiper mobil tua. Di balik kaca yang menutup gambar di sebelah pintu kamar tidur, si wanita dari tahun dua puluhan dengan puting yang berdarah dan seringai penuh taring tajam berputar cepat dan memanjat naik tangga, lutut terangkat tinggi seperti wanita penggoda di film bisu. Telepon itu terus menggerus dan merepet, dari dalamnya sekarang terdengar suara pencukur rambut elektrik yang belajar cara berbicara: “Lima! Ini lima! Abaikan sirine! Bahkan kalau kau pergi, kau tidak akan pernah meninggalkan kamar ini! Delapan! Ini delapan!”
Pintu yang mengarah ke kamar tidur dan pintu yang mengarah pada koridor luar mulai mencembung, melebar di tengah dan membentuk jalan masuk untuk makhluk-makhluk yang terwujud dari bentuk-bentuk yang tidak suci. Cahaya yang ada mulai bertambah terang dan panas, memenuhi kamar itu dengan pendar kuning-jingga. Sekarang ia dapat melihat sobekan-sobekan pada kertas dinding, pori-pori hitam yang segera tumbuh menjadi mulut. Lantai tenggelam ke dalam cekungan dan sekarang ia dapat mendengarnya datang, penghuni di belakang kamar itu, makhluk di balik dinding-dinding, pemilik suara berdengung tersebut. “Enam!” jerit telepon tersebut. “Enam, ini enam, yang bicara ini adalah ENAM!”
Ia menunduk menatap bungkus korek di tangannya, yang ia ambil dari asbak di kamar tidur. Penjaga pintu yang lucu, mobil-mobil lucu dengan pembakaran berbahan krom berukuran besar ... dan kata-kata yang tertulis di sepanjang bagian bawahnya yang lama sudah tidak ia tidak lihat, karena saat ini permukaan sulutnya ada di bagian belakang.
TUTUP SEBELUM MENYALAKAN KOREK.
Tanpa berpikir—ia tidak lagi dapat berpikir—Mike Enslin merenggut keluar satu korek, membiarkan rokok di mulutnya jatuh pada saat yang sama. Ia menyalakan koreknya dan segera menyentuhkannya dengan yang lain di dalam kotak. Ada suara ckrsss! Bau tajam dari sulfur yang terbakar masuk ke dalam kepalanya seperti obat amonia, dan nyala terang dari kepala-kepala korek. Dan kemudian, tanpa setitikpun pikiran, Mike menempelkan buket api tersebut pada kemejanya. Baju murah yang dibuat di Korea atau Kamboja atau Borneo, dan sudah tua; segera terbakar. Sebelum api itu membesar di matanya, membuat kamar itu kembali tampak tak stabil, Mike melihat dengan lebih jelas; seseorang yang baru terbangun dari mimpi buruk hanya untuk melihat sekelilingnya ternyata adalah mimpi buruk itu sendiri.
Kepalanya jernih—bau tajam sulfur dan panas tinggi mendadak dari bajunya bekerja—tetapi kamar itu mempertahankan aspek lengkungan Moornya. Moor tidak tepat, bahkan tidak mendekati, tetapi itu satu-satunya kata yang agaknya mampu menggambarkan apa yang telah terjadi pada tempat itu ... dan masih terjadi. Ia berada di dalam gua yang membusuk dan meleleh, penuh tukikan dan kemiringan tak wajar. Pintu yang mengarah ke kamar tidur telah menjadi gerbang ke dalam sebuah sarkofagus. Di sebelah kirinya, di mana tadinya ada gambar lukisan buah tergantung, kini dindingnya mencembung maju, ujungnya membuka dalam bentuk retakan-retakan panjang yang menganga seperti mulut, membuka jalan dari dunia yang mengantar sesuatu yang tengah mendekat. Mike Enslin dapat mendengar nafasnya yang penuh liur penantian, dan bau akan sesuatu yang hidup dan berbahaya. Mirip seperti rumah-singa pada—
Lalu jilatan api mencapai bawah dagunya, menghapus pikiran-pikiran. Panas yang naik dari kausnya yang terbakar mengembalikannya kembali pada dunia, dan ia mulai mencium bau gosong rambut dadanya yang terbakar. Mike kembali melesat melewati karpet yang terbenam menuju pintu ke koridor. Suara dengung serupa suara kumbang mulai merembes keluar dari dinding. Cahaya jingga-kuning itu bertambah terang secara bertahap, seolah ada tangan tak terlihat yang menaikkan suhu rheostat. Namun kali ini saat ia mencapai pintu dan memutar gagangnya, pintu itu terbuka. Seolah makhluk di balik dinding yang mencembung merasa lelaki yang terbakar tidak ada gunanya; atau mungkin, tidak menyukai daging yang matang.
___________________________________
Bagian III
Lagu populer dari tahun lima puluhan mengatakan bahwa cinta membuat dunia tetap berputar, namun kebetulan mungkin adalah pertaruhan yang lebih baik. Rufus Dearborn, yang bermalam di 1414, dekat elevator, adalah salesman Perusahaan Mesin Jahit Singer, datang dari Texas untuk mendiskusikan kenaikan jabatan ke tingkat eksekutif. Maka terjadilah, setelah sembilan puluh sekian tahun sejak penghuni pertama 1408 terjun mati, salesman mesin jahit lain menyelamatkan nyawa seorang lelaki yang datang untuk menulis kisah kamar yang seharusnya berhantu tersebut. Atau mungkin hal ini agak dibesar-besarkan. Mike Enslin mungkin akan tetap hidup bahkan bila tidak ada siapapun di lorong—terutama seseorang yang baru kembali dari mesin pembuat es—pada waktu tersebut. Namun terbakar dalam baju bukan bahan candaan, dan ia pasti sudah akan menderita luka bakar yang jauh lebih serius bila bukan karena Dearborn yang berpikir dengan cepat dan bergerak lebih cepat lagi.
Dearborn bukannya mengingat jelas kejadiannya. Ia sudah menyusun cerita yang lumayan jelas untuk koran dan kamera TV (ia senang berperan sebagai pahlawan, dan tentu saja bukannya tidak membantu kenaikan jabatannya), dan ia ingat jelas melihat seorang lelaki yang terbakar menerjang keluar ke tengah koridor, namun apa yang terjadi setelahnya tidak ia ingat jelas. Mencoba mengingatnya itu seperti mencoba mereka-ulang hal-hal yang pernah kau lakukan sewaktu kau mengalami mabuk paling berat dalam hidupmu. Ada satu hal yang ia yakin terjadi namun tidak ia beritahukan pada reporter, karena hal itu tidak masuk akal: jeritan si lelaki yang terbakar agaknya bertambah kencang secara bertahap, seolah ia adalah stereo dengan tombol pengeras suara yang perlahan disetel naik. Ia ada tepat di depan Dearborn, dan nada teriakannya tidak berubah, namun intensitasnya jelas berubah. Seolah lelaki tersebut adalah objek bersuara keras yang baru saja tiba di depannya.
Dearborn berlari sepanjang koridor dengan ember penuh es di tangannya. Si lelaki yang terbakar—“Hanya bajunya yang terbakar, saya langsung menyadari itu,” katanya pada para reporter—menabrak pintu di seberang kamar tempatnya keluar, membal kencang, terhuyung, lalu jatuh berlutut. Itulah saat Dearborn mencapainya. Ia memijakkan kakinya pada bahu terbakar si lelaki yang berteriak dan membaringkannya ke atas karpet koridor. Lalu ia menuangkan isi embernya kepadanya.
Hal-hal itu kabur dalam ingatannya, namun masih dapat ia ingat. Ia sadar baju yang terbakar itu menguarkan terlalu banyak cahaya—sinar kuning-jingga terik yang membuatnya teringat pada perjalanan yang ia dan kakak laki-lakinya lakukan ke Australia dua tahun lalu. Mereka menyewa sebuah mobil AWD dan berangkat melintasi Padang Pasir Besar Australia (beberapa penduduk asli menyebutnya Padang Pengganggu Besar Australia; dari yang Dearborn bersaudara ketahui setelahnya), perjalanan yang sulit, menakjubkan, namun mencekam. Terutama batu besar di tengah-tengah, Karang Ayers. Mereka mencapainya tepat sekitar matahari terbenam dan cahaya pada wajah kedua lelaki itu terasa seperti itu ... panas dan janggal ... tidak seperti cahaya yang berasal dari bumi.
Ia berlutut di sebelah lelaki terbakar yang kini sudah menjadi lelaki hangus, lelaki-yang-terkubur-es-batu, dan menggulingkannya untuk mematikan sisa-sisa api yang mencapai belakang bajunya. Ketika ia melakukannya, ia melihat kulit pada leher bagian kiri lelaki tersebut telah berasap, bergelembung merah, dan kantung telinga pada sisi tersebut telah sedikit meleleh, namun selain ... dari itu ...
Dearborn mendongak, dan tampaknya—ini gila, tetapi tampaknya pintu tempat lelaki itu keluar kini penuh dengan sinar membara matahari yang terbenam di Australia, cahaya panas dari tempat kosong di mana tinggal makhluk-makhluk yang tidak pernah satupun manusia hidup saksikan langsung. Cahaya itu mengerikan (disertai dengung rendah, seperti pencukur listrik yang berusaha keras untuk berbicara), tetapi juga menakjubkan. Ia ingin masuk ke dalamnya. Ia ingin melihat apa yang ada di baliknya.
Mungkin Mike juga menyelamatkan nyawa Dearborn. Ia jelas menyadari Dearborn mulai berdiri—seolah Mike tidak lagi menaruh ketertarikan padanya—dan wajahnya penuh dengan cahaya menyilaukan yang berdenyut dari kamar 1408. Ia mengingat ini lebih jelas daripada Dearborn sendiri nantinya, namun tentu saja Rufe Dearborn tidak turut harus membakar dirinya sendiri untuk menyelamatkan nyawanya.
Mike menggenggam kain pergelangan tangan Dearborn. “Jangan masuk ke dalam sana,” katanya dengan suara parau dan berasap. “Kau tidak akan pernah keluar.”
Dearborn berhenti, menunduk menatap wajah merah melepuh si lelaki di atas karpet.
“Tempat itu berhantu,” kata Mike, dan seolah kata-katanya adalah jimat penghalau, pintu kamar 1408 membanting tertutup, memutus cahaya, memutus suara dengung mengerikan yang hampir dapat membentuk kata-kata.
Rufus Dearborn, salah satu karyawan Mesin Jahit Singer yang terbaik, berlari ke elevator dan menyalakan alarm kebakaran.
~~~
Bagian IV
Ada foto menarik Mike Enslin dalam buku Merawat Korban Luka Kabar: Pendekatan Diagnostik, edisi ke enam belas yang muncul sekitar enam belas bulan setelah pengalaman menginap Mike yang singkat di kamar 1408 Hotel Dolphin. Foto itu hanya menunjukkan torso, tetapi itu memang Mike. Seseorang dapat mengenalinya dari bentuk kotak putih di bagian kiri dadanya. Daging di sekitarnya berwarna merah padam, melepuh oleh luka bakar tingkat dua di beberapa tempat. Bentuk kotak putih dari saku kiri baju yang ia pakai malam itu, kaus keberuntungan dengan minicorder di dalam saku.
Minicorder itu sendiri meleleh pada seluruh tepiannya, namun masih bekerja, dan tape di dalamnya baik-baik saja. Hal-hal yang terekam di dalamnya tidak baik. Setelah mendengarkannya tiga atau empat kali, agen Mike, Sam Farrell, memasukkannya ke dalam brankas dinding, menolak mengakui rambut-rambut yang berdiri di seluruh tangannya cokelat dan kurus kering. Sejak tape itu berada di dalam brankas-dinding, Farrel tidak punya keinginan untuk mengeluarkan dan memutarnya lagi, tidak untuk dirinya sendiri, tidak untuk teman-temannya yang penasaran. Beberapa akan membunuh dengan senang hati untuk mendengarkannya; bisnis penerbitan di New York adalah komunitas kecil, dan berita beredar dengan cepat.
Ia tidak menyukai suara Mike dalam perekam tersebut, ia tidak menyukai hal-hal yang suara itu katakan (kakak laki-lakiku sebenarnya disantap serigala di musim dingin gerbang tol Turnpike ... demi Tuhan, apa maksudnya itu?), dan terutama ia tidak menyukai suara lain yang mengiringi rekaman tersebut, kadang terdengar seperti cairan bergolak, seperti bunyi baju yang berkecipak dalam air yang terlalu kental, kadang seperti salah satu pencukur rambut elektrik tua itu ... dan kadang dengan janggalnya terdengar seperti kata-kata.
Ketika Mike masih di rumah sakit, lelaki bernama Olin—tolonglah, manajer hotel terkutuk itu—datang dan meminta pada Sam Farrell untuk mendengarkan rekaman tersebut. Farrel menjawab tidak, tidak bisa; apa yang dapat Olin lakukan untuk membantu dirinya adalah keluar dari kantor agensi tersebut secepat mungkin dan berterima kasih pada Tuhan di sepanjang jalan menuju sarang kutu tempatnya bekerja karena Mike Enslin memilih untuk tidak menggugat hotel itu maupun Olin untuk kelalaian mereka.
“Saya sudah mencoba membujuknya untuk tidak masuk ke dalam kamar itu,” kata Olin perlahan. Lelaki yang menghabiskan banyak hari kerjanya mendengarkan keluhan pengelana yang kelelahan dan tamu pemarah yang rewel tentang, mulai dari kamar mereka, sampai pilihan bacaan di rak koran; ia tidak banyak terusik oleh kebencian Farrell. “Saya sudah mencoba semampu saya. Bila ada yang lalai di malam itu, Pak Farrell, itu adalah klien anda. Ia terlalu percaya pada ketidakpercayaannya. Sikap yang sangat tidak bijaksana. Sikap yang sangat tidak aman. Saya akan menebak pengalaman ini sudah merubah sikapnya.”
Walau dilanda ketidaksukaan pada tape tersebut, Farrell ingin Mike mencoba mendengarkannya, untuk mengakuinya, dan mungkin menggunakannya sebagai tumpuan peluncuran buku baru. Akan ada buku tentang apa yang terjadi pada Mike, Farrel tahu itu—tidak hanya satu bab, sejarah singkat sepanjang empat puluh halaman, melainkan satu buku. Buku yang akan melebihi gabungan penjualan ketiga seri Sepuluh Malam. Dan tentu saja ia tidak percaya pernyataan tegas Mike akan bagaimana ia sudah selesai, tidak hanya dengan kisah-kisah hantu, tetapi juga dengan dunia tulis-menulis itu sendiri. Para penulis mengatakan hal tersebut dari waktu ke waktu. Bagaimanapun letupan ego primadona adalah salah satu hal yang menjadikan penulis sebagai penulis.
Untuk Mike Enslin sendiri, ia cukup beruntung, mengingat apa yang telah terjadi padanya. Dan ia tahu itu. Ia bisa saja menderita luka bakar yang lebih buruk daripada keadaannya sekarang; bila bukan karena Pak Dearborn dan ember penuh esnya, ia mungkin sudah mengalami penderitaan dari dua atau tiga puluh prosedur pengangkatan kulit dan bukan sekedar empat. Leher bagian kirinya tetap meninggalkan bekas walau prosedur tersebut usai, namun dokter-dokter di institusi Boston Burn memberitahunya bekas luka itu akan hilang dengan sendirinya. Ia juga tahu bahwa luka bakar itu, walau membuatnya kesakitan selama berminggu-minggu dan berbulan-bulan setelah kejadian malam itu, memang harus ada. Bila bukan karena korek dengan tulisan TUTUP SEBELUM MENYALAKAN KOREK di bagian depan, ia sudah akan kehilangan nyawanya di 1408, dan nasibnya tidak akan dapat dijabarkan dengan kata-kata. Di mata seorang dokter koroner, kematiannya akan tampak sebagai stroke atau serangan jantung, tetapi penyebab sebenarnya adalah sesuatu yang lebih mengerikan.
Jauh lebih mengerikan.
Ia beruntung telah menerbitkan tiga buku populer tentang hantu dan makhluk yang bergentayangan sebelum akhirnya benar-benar mengalami kejadian buruk di tempat yang memang berpenunggu—ini ia sadari juga. Sam Farrel mungkin tidak percaya bahwa hidup Mike sebagai penulis telah berakhir, tetapi Sam tidak perlu memikirkannya; cukup Mike yang tahu itu untuk mereka berdua. Ia tidak dapat menulis kartu pos tanpa merasa dingin di sekujur tubuhnya dan merasa mual jauh di dasar perutnya. Terkadang melihat pada pena (atau perekam tape) akan membuatnya berpikir: Gambar-gambar itu miring. Aku mencoba meluruskannya. Ia tidak tahu itu apa artinya. Ia tidak dapat mengingat gambar atau apapun yang lain dari kamar 1408, dan ia senang dengan itu. Itu adalah belas kasihan. Tekanan darahnya tidak terlalu baik akhir-akhir ini (dokternya mengatakan korban luka bakar sering mengalami masalah dengan tekanan darah dan meresepkannya obat-obatan), matanya bermasalah (ahli oftalmonologinya memintanya untuk mulai mengkonsumsi Ocuvites), masalah pada punggungnya tidak juga hilang, prostatanya mulai membengkak terlalu besar ... tetapi ia sanggup menangani hal-hal tersebut. Ia tahu ia bukan orang pertama yang lepas dari 1408 tanpa benar-benar keluar—Olin sudah mencoba memberitahunya—tetapi tidak seburuk itu. Setidaknya, ia tidak ingat. Terkadang ia bermimpi buruk. Lumayan sering, malah (hampir setiap malam terkutuk, sebenarnya), tetapi ia jarang mengingat mimpinya begitu terbangun. Kebanyakan adalah ingatan akan benda-benda yang melengkung—meleleh seperti minicordernya. Ia tinggal di Long Island akhir-akhir ini, dan ketika cuaca bagus ia akan berjalan-jalan di sepanjang pantai. Hal paling jelas yang dapat ia ingat tentang 1408 ada dalam salah satu aktivitas tersebut. “Sejak awal bukan manusia,” katanya pada ombak yang datang bergulung, dengan suara yang tersendat dan tersedak. “Hantu ... setidaknya hantu awalnya manusia. Tapi makhluk di dalam dinding ... makhluk itu ....”
Waktu akan menjadikan segalanya lebih baik. Ia dapat dan memang berharap akan hal tersebut. Waktu akan memudarkan, seperti waktu akan melenyapkan bekas luka pada lehernya. Sementara itu, ia akan tidur dengan lampu menyala di kamar tidurnya, agar ia dapat segera tahu di mana ia berada saat ia terlonjak bangun dari mimpi buruknya. Ia membuang semua telepon di rumahnya; pada beberapa titik, tepat pada dasar di mana pikiran sadarnya dapat menjelajah, ia takut apabila ia mengangkat telepon, ia akan mendengar suara mendengung yang tidak manusiawi, meludahkan, “Ini sembilan! Sembilan! Kami sudah membunuh teman-temanmu! Semua temanmu sudah mati!”
Dan ketika matahari terbenam di senja hari, ia menarik turun semua gorden dan kerai dan tirai di dalam rumah. Ia duduk seperti penghuni kamar gelap sampai jam tangannya memberitahunya bahwa cahaya—bahkan sisa cahaya terakhir dari cakrawala—sudah tidak ada lagi.
Ia tidak sanggup menatap cahaya yang tampak saat matahari terbenam.
Warna kuning menebal ke jingga, seperti cahaya di padang pasir Australia.
__________________________________
Sumber: Everything's Eventual, oleh Stephen King
No comments:
Post a Comment